Jumat, Maret 21, 2014

Review "Creating Community with Media : History, Theories and Scientific Investigations " - Teknologi Komunikasi bagian 2

Pada chapter 2  :  “Creating Community  with Media : History, Theories and Scientific Investigations membahas bagaimana perkembangan atau regenerasi masyarakat dari penggunaan media lama ke media baru dengan adanya mediasi komunikasi serta hubungan antar media dengan masyarakat baru tersebut. Bagian pertama menggambarkan tiga periode sejarah ketika hubungan antara masyarakat dan media telah menjadi pusat. Sebuah deskripsi singkat dari media baru juga disediakan disini. Bagian kedua membahas transformasi konsep masyarakat dari studi sosiologis lokalitas-berorientasi awal yang dilakukan dari pemeriksaan multi disiplin dari fasilitas komunikasi berbasis internet di mana tidak ada 'tempat' geografis. Bagian ketiga memberikan ilustrasi dari tiga jenis studi yang terkait antara masyarakat dan media: skala kecil media elektronika, jaringan informasi masyarakat, dan diskusi publik dan debat melalui jaringan elektronik. Bagian keempat dan terakhir meneliti pendekatan metodologis utama dan menunjukkan kontur agenda penelitian yang berorientasi pada eksplorasi lebih lanjut dari antarmuka antara masyarakat dan media baru.

Segala perkembangan yang ada di dunia ini tentu memiliki dampak, begitu juga dengan kehadiran teknologi (media) yang tentu saja memberikan berbagai aspek yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Aspek positifnya antara lain kehadiran teknologi baru akan menghapus ketidaksetaraan dan kejahatan dalam masyarakat, pendidikan akan meningkat, warga menjadi aktif dalam perdagangan dengan adanya kepemimpinan ekonomi baru yang lebih berkembang, selain itu masyarakat umum percaya bahwa hilangnya nilai-nilai tradisi masyarakat internasional karena kurangnya fasilitas dan teknologi dapat kembali dengan berkomunikasi melalui internet. Sedangkan aspek negatifnya antara lain teknologi baru ditakutkan akan dijadikan sebagai alat potensial untuk propaganda politik, televisi dan film, apalagi, diduga mampu merusak tatanan masyarakat, deformasi pikiran muda dan merendahkan warisan budaya.
Hal-hal baru tentu akan membawa karakteristik yang mungkin berbeda dengan hal-hal yang sudah ada begitu juga dengan media baru. Karakteristik yang melekat pada media baru antara lain adanya transformasi dalam cara-cara individu saat menggunakan media untuk menentukan tempat dan fungsi-fungsi media ini dalam kehidupan mereka sehari-hari. Media baru adalah fenomena konstruksi sosial dan sering menyimpang secara substansial dari maksud perancang aslinya. Selain itu, media baru juga melibatkan desentralisasi saluran untuk distribusi pesan, peningkatan kapasitas yang tersedia untuk transfer pesan berkat satelit, jaringan kabel dan komputer, peningkatan pilihan yang tersedia untuk penonton untuk terlibat dalam proses komunikasi, seringkali melibatkan bentuk komunikasi yang interaktif, dan peningkatan tingkat fleksibilitas untuk menentukan bentuk dan isi melalui digitalisasi pesan. Digitalisasi disini berarti bahwa isi dari satu medium dapat ditukarkan dengan yang lain. Perkembangan media baru biasanya banyak berhubungan dan mencakup teknologi seperti CD-I dan CD-ROM , jaringan televisi kabel dan komputer, berbagai komunikasi melalui komputer (CMC) perkembangan seperti e -mail, berita-kelompok dan daftar diskusi, dan  layanan realtime chatting, dan layanan berita berbasis internet yang disediakan oleh surat kabar tradisional dan penyiaran.
Tahap perkembangan kajian antara media dan komunitas terbagi menjadi dua gelombang. Yang pertama yaitu gelombang masyarakat dan pembelajaran media. Pada tahap ini sebuah studi mengemukakan bahwa pembaca di daerah perkotaan lebih berkarakteristik daripada masyarakat tradisional. Di kota, pembaca lebih memiliki ketertarikan pada berita dari luar daerah sedangkan pada masyarakat tradisional lebih suka membaca berita lokal. Penggunaan media dan partisipasi masyarakat merupakan refleksi dari sifat-sifat individu. Surat kabar juga mengintegrasikan individu ke dalam sebuah komunitas. Koran lokal dapat memberikan kontribusi konsensus untuk masyarakat setempat, ia menyelidiki peran keluarga, kohesi sosial dan partisipasi masyarakat di surat kabar komunitas pembaca. Integrasi masyarakat dan keterlibatan masyarakat terkait dengan perhatian yang lebih besar terhadap surat kabar lokal. Hubungan antara media dan masyarakat dilihat sebagai salah satu konsekuensi dari masyarakat yang menggunakan media. Gelombang yang kedua yaitu media komunitas elektronik. Adanya perkembangan teknologi rekaman video portabel dan sistem distribusi televisi kabel pada akhir tahun 1960 dan awal 1970-an membuat berbagai kelompok menggunakan teknologi komunikasi ini sebagai inisiatif saat akan melakukan tindakan untuk masyarakat. Media dalam konteks ini juga menciptakan 'media komunitas' yang mengacu pada berbagai macam bentuk dimediasi komunikasi: media elektronik seperti radio dan televisi, media cetak seperti koran dan majalah, dan jaringan elektronik kemudian berinisiatif merangkul karakteristik baik cetak tradisional dan media elektronikSelain itu, adanya televisi menjadikan masyarakat bekerja sama dengan staf stasiun televisi dalam membuat ide dan produksi program yang akan dihasilkan. Namun, dalam beberapa ulasan diungkapkan bahwa beberapa kelompok dimanfaatkan oleh media elektronik skala kecil untuk tujuan politik dan budaya. Penggagas media komunitas yang sering berlebihan mengekspresikan diri atas kebutuhan orang melalui media. Dan masalah ini menyebabkan pembentukan struktur organisasi yang profesional bertentangan dengan tujuan-tujuan yang berorientasi pada masyarakat asli.

Perkembangan jaman menjadikan terjadinya perubahan formulasi pada masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya komunitas virtual. Komunitas virtual adalah kumpulan atau sekelompok orang yang muncul berdasarkan adanya kepentingan yang sama oleh berbagai pihak dan timbulnya interaksi secara berkesinambungan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam komunitas tersebut. Komunitas ini terbentuk bukan lewat dunia nyata melainkan lewat dunia maya karena interaksi antar anggotanya yang intens di dunia maya sehingga menjadikan mereka memiliki kesenangan yang sama. Pencetus pertama kali istilah ini adalah Rheingold dalam bukunya The Virtual Community : Homesteading pada Electronic Frontier (2000) yang menjelaskan bahwa pada masyarakat virtual, mereka seringkali berdebat, terlibat dalam wacana intelektual, melakukan perdagangan, pertukaran pengetahuan, berbagi dukungan emosional, membuat rencana, brainstorming, gossip, perseteruan, jatuh cinta, mencari teman dan kehilangan mereka, bermain game, menggoda, membuat seni tinggi sedikit dan banyak omong kosong. Orang-orang di komunitas virtual melakukan hampir segala sesuatu yang orang lakukan dalam kehidupan nyata, namun mereka melakukannya di dunia maya.
Ada komunitas virtual maka terdapat pula komunitas organic. Komunitas organik adalah kebalikan dari komunitas virtual, komunitas ini terbentuk lewat dunia nyata. Namun diantara keduanya memiliki perbedaan karakteristik yang cukup signifikan.
Perbedaan karakteristik antara komunitas virtual dan komunitas organic:
Characteristic
Organic
Virtual
Composition and activity
Tight group (age) Several activities
Loose affiliation
Special activities
Social organization
Tied to place and time
Not tied to place and time
Language and interaction
Verbal and non-verbal
Verbal and paralanguage
Culture and identity
Total singular
Homogeneous
Partial plural
Heterogeneous
Source: van Dijk, 1998: 45
Komunitas virtual:
a)      Orang-orang di komunitas virtual melakukan hampir segala sesuatu yang orang lakukan dalam kehidupan nyata. Komunitas virtual yang digambarkan sebagai orang-orang dengan hubungan yang relatif longgar. Orang-orang di komunitas virtual menggunakan kata-kata di layar untuk berbasa-basi dan berdebat, terlibat dalam wacana intelektual, melakukan perdagangan, pertukaran pengetahuan, berbagi dukungan emosional, membuat rencana, brainstorming, gossip, perseteruan, hubungan percintaan, mencari teman, bermain game, menggoda, membuat seni tinggi sedikit dan banyak omong kosong.
b)      Tidak peduli dengan pertimbangan-pertimbangan waktu dan tempat. mereka adalah masyarakat yang tidak terikat pada tempat tertentu atau waktu , tapi yang masih melayani kepentingan umum di bidang sosial, kultural dan mental realitas mulai dari umum ke kepentingan khusus atau kegiatan  ( 1998: 40 ) .
c)      parabahasa berkembang dengan baik
d)     Pluralistik dan heterogen dalam komposisi. Dalam keanggotaan mereka pasti berasal dari berbagai wilayah yang mengakibatkan timbulnya heterogenitas masyarakat.
Komunitas organik:
a)      Komunitas organik dapat dicirikan oleh ikatan yang kuat di antara anggota mereka. Ikatan yang kuat ini terjadi karena mereka selalu bertatap muka dengan intens di dunia nyata, sehingga mereka lebih bisa mengenali karakteristik masing-masing individu dalam proses komunikasinya, sehingga mereka mampu menjalin hubungan yang kuat.
b)      Didasarkan pada waktu dan tempat
c)      Adanya perkembangan verbal dan nonverbal
d)     Merefleksikan keanggotaan yang homogeny. Keanggotaan yang terbentuk biasanya karena adanya kecocokan atau ketertarikan tertentu dalam suatu hal yang sama satu sama lain serta memiliki karakteristik kebudayaan yang sama. Sehingga keanggotaan mereka bersifat homogen.

Agenda riset  yang menarik terkait dengan komunitas dan penggunaan media baru yaitu Media Elektronik Kecil yang merupakan sebuah kompilasi penelitian dari media dan komunitas (Jankowski, 2001). Penelitian dengan Media Elektronik Kecil ini sudah mulai disiapkan dari satu decade lalu untuk mempelajari komunitas dengan mengunakan metode penelitian kualitatif (Jankowski, 1991). Selain perkembangan dalam metode, kemajuan juga sedang dibuat dalam menentukan pertanyaan-pertanyaan kunci bagi komunitas dan media (Jankowski, 2001). , Salah satu penelitian Media Elektronik Kecil yaitu riset yang dilakukan oleh  Mitchell yaitu berupa sebuah penelitian tentang media dan komunitas. Dalam penelitian ini Mitchell (2001) mengeksplorasi bagaimana komunitas radio perempuan dapat berfungsi sebagai alat untuk pemberdayaan perempuan. Selain itu stasiun radio perempuan dan proyek-proyek dari radio ini  menyebar di seluruh Eropa. Mitchell meneliti bagaimana radio dapat digunakan untuk mengembangkan ruang publik feminis atau ruang public yang diperuntukan untuk para wanita. Dalam penelitian tersebut berkaitan erat antara penggunaan media baru serta komunitas, bahwa penelitian itu menjelaskan bahwa kegunaan dari media bisa lebih bervariasi artinya media tidak hanya sebagai penyalur informasi saja namun kini sudah mengalami perkembangan yang lebih luas dalam kegunaanya, seperti halnya dalam penelitian tersebut media bisa menjadi alat yang menyatukan sebuah komunitas dan juga berfungsi sebaliknya, hal itu ditunjukan dengan radio sebagai media digunakan untuk alat menyatukan komunitas terlihat dari program radio perempuan ini dapat berfungsi sebagai alat untuk pemberdayaan perempuan agar para perempuan ini atau komunitas perempuan ini bisa mendapat ruang public yang lebih luas lagi dan inilah hal menarik dari riset tersebut karena komunitas terkait dengan penggunaan media baru.


Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006,  Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter  2  :  “Creating Community  with Media : History, Theories and Scientific Investigations





1 komentar:

Posting Komentar