Selasa, Desember 31, 2013

KONFLIK-KONFLIK DALAM KOMUNIKASI ANTARPESONA


                          MATA KULIAH KOMUNIKASI ANTARPESONA
            KONFLIK-KONFLIK DALAM KOMUNIKASI ANTARPESONA


A.    LATAR BELAKANG
Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antar dua orang yang memiliki sebuah ikatan atau hubungan. Komunikasi antar pribadi menunjuk kepada komunikasi dengan orang lain.  Komunikasi Antar Pribadi bersifat dialogis, dalam arus balik antar komunikator dengan komunikan terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan dari komunikan dan secara pasti akan mengetahui apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau tidak. Komunikasi Antar Pribadi juga sangat penting dalam hubungan fenomena masyarakat. Karena adanya proses transaksional pesan didalam komunikasi antarpribadi  dan kemungkinan pula adanya noise dalam proses komunikasi tersebut, akan memungkinkan terjadi nya kesalahpahaman dalam penerimaan pesan dan  akan menimbulkan konflik dalam komunikasi antarpribadi.
Setiap hubungan antar pribadi mengandung unsur-unsur konflik, pertentangan pendapat atau perbedaan kepentingan. Yang dimaksud konflik adalah situasi di mana tindakan salah satu pihak berakibat menghalangi, menghambat atau mengganggu tindakan pihak lain ( Johnson, 1981 ). Kendati unsur konflik selalu terdapat dalam setiap bentuk hubungan antarpribadi, pada umumnya masyarakat memandang bahwa konflik sebagai faktor yang akan merusak hubungan , maka harus dicegah.
Namun, kini banyak orang mulai sadar bahwa rusaknya hubungan sesungguhnya bukan karena konflik itu sendiri, melainkan disebabkan oleh kegagalan seseorang dalam memecahkan konflik secara konstruktif, adil dan memuaskan. Jika kita mampu mengelola konflik secara konstruktif justru dapat memberikan manfaat positif , baik bagi diri kita sendiri maupun bagi hubungan kita dengan orang lain. Kini konflik sering diberi sebutan yang lebih berkonotasi positif, seperti bumbu dalam hubungan antara pribadi, baik dalam persahabatan, hubungan antara suami-istri, maupun bentuk-bentuk hubungan lainnya. Sesungguhnya, bila kita mampu mengelola secara konstruktif, konflik justru dapat memberikan manmfaat positif bagi diri kita sendiri maupun bagi hubungan kita dengan orang lain 


B.     RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini, rumusan yang menjadi masalah – masalah yang akan dibahas meliputi :
1.      Apa yang dimaksud dengan konflik ?
2.      Apa saja faktor – faktor penyebab terjadinya konflik ?
3.      Apa saja jenis – jenis konflik yang ada dalam Komunikasi Antarpersona ?
4.      Bagaimana dampak yang ditimbulkan dengan adanya konflik ?
5.      Bagaimana cara atau strategi – strategi yang dilakukan untuk mengatasi konflik yan terjadi ?

























C.    PEMBAHASAN

1.      Pengertian Konflik

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik menurut para ahli adalah sebagai berikut :
·         Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
·         Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.
·         Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.

2.      Faktor Penyebab Konflik dalam Komunikasi Antarpersona

Ada beberapa yang dapat menimbulkan terjadinya konflik dalam suatu hubungan antar pribadi. Beberapa penyebab tersebut antara lain :
a.       Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik, sebab dalam menjalani hubungan, seseorang tidak selalu sejalan dengan orang lain. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
b.      Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
c.       Perbedaan kepentingan antara individu.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.

3.      Jenis-Jenis Konflik

Menurut Hocker dan Wilmot (1991) mengemukakan tiga kategori perilaku konflik:
a.       Konflik Penghindaran
Konflik penghindaran meliputi banyak strategi untuk menghindari konfrontasi. Strategi tersebut tediri dari penolakan sederhana terhadap pernyataan-pernyataan yang pesimistik atau ambivalen.
·         Penolakan yang sederhana merupakan pernyataan-pernyataan yang tidak di elaborasi dibuat untuk menolak bahwa konflik sedang terjadi. Contoh “Siapa yang berselisih? Aku tidak marah sama sekali.”
·         Kekurangan repons adalah kegagalan untuk mengakui atau menolak adanya konflik menyusul pernyataan atau pertanyaan mengenai konflik oleh orang lain. Contoh “Saya pikir kamu belum memperbaiki mobil itu. Bagaimana kalau mobil iti mogok lagi dijalan?” “Mobil itu akan lancar.”
·         Mengalihkan dan menghindari topik-topik merupakan taktik-taktik lain yang meliputi fokus semantik, keabstrakan bergurau, ambivalensi dan pesimisme.
·         Fokus semantik merupakan pengelakan yang menarik, seseorang mencoba menghindari konflik dengan memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan, kemudian membuat pernyataan tentang makna kata-kata yang digunakan atau bagaimana menandai konflik yang sedang berkangsung. Selain komentar-komentar ambivalen mengenai konflik, ucapan-ucapan yang pesimsitik cenderung menepis pembicaraan mengenai sebab-sebab konflik. Contoh “Kita tak perlu megulang-ulang hal itu lagi. Kita telah sering membicarakannya.”
·         Penangguhan merupakan cara strategi untuk menghindar dengan cara yang baik, dengan  catatan  pembicaraan yang dilakukan dalam waktu yang dekat.

b.      Konflik Persaingan (Mengganggu)
Taktik-taktik dalam konflik persaingan digunakan untuk menjadi pemenang. Menurut sillars taktik persaingan meliputi:
·         Pencarian kesalahan (kecaman pribadi langsung), contohnya “Kamu kelihatan kacau.”
·         Penolakan, contohnya “Aku tidak bisa pergi sama kamu”.
·         Pemojokan, Contohnya “Bagaimana kamu tahan hidup seperti itu?.”
·         Gurauan yang menyakitkan contohnya “Bila kawan-kawanmu terjun ke jurang, apa kamu mau terjun juga.”
·         Atribusi presumtif adalah membuat pernyataan-pernyataan yang di nisbahkan kepada perasaan, pikiran, motif orang lain yang tidak ia akui. Contohnya “Kamu baru saja mengatakan bahwa karena kamu tahu itu membuatku marah.” “Kamu ingin melihatku membodohi diriku sendiri.” “Jadi kamu pikir aku tidak dapat membantah bosku.”
·         Preskripsi merupakan salah satu strategi yang kompetitif dan kuat. Orang yang konfrontif mengajukan tuntutan, mengancam, atau menginginkan suatu perubahan perilaku pada orang lain yang dianggap akan memecahkan konflik. Ancaman merupakan respons yang paling sering digunakan dalam konflik, dan terkadang ancaman menimbulkan perubahan, namun hanya bila orang yang diancam percaya dan peduli bahwa ancaman itu akan dilakasanakan. Contohnya “Selesaikan pekerjaan itu besok atau aku takkan membayar kamu.” “Bila kamu meninggalkan rumah ini sekarang, jangan kembali lagi.”

c.       Konflik Kolaborasi (Integratif)
Konflik kolaborasi terdiri dari beberapa taktik-taktik (sillars, 1982) yaitu sebagai berikut:
·         Deskripsi yaitu tidak menyalahkan atau membuat penilaian-penilaian lainnya atau sekedar melukiskan. Contohnya bukan “Kamu tidak pernah ingin pergi ke luar” namun “Aku merasa tertekan karena kita jarang pergi ke luar.”
·         Kualifikasi adalah pembatasan subjek yang dipermasalahkan. Contohnya “Jangan mempermasalahkan  mengapa kita tidak punya uang cukup. Dapatkah kita mencari jalan bagaimana kita dapat mengelola apa yang kita miliki sekarang sehingga tekanan itu berkurang bagi kita?”
·         Dengan menyingkapkan pikiran dan perasaan anda sendiri dan meminta orang lain menyingkapkan diri mereka, maksudnya adalah mencoba mengembangkan suatu iklim yang mendukung sehingga konflik mungkin dapat diatasi. Contohnya “Bila kamu berbicara tentang pria lain,aku menjadi cemas. Apakah kau bermaksud tak mau berhubungan denganku lagi?”
·         Pertanyaan negatif yaitu mendorong penyikapan dan keterbukaan dari orang lain. Contohnya “Dik, bila aku pernah menyakiti perasaanmu, aku ingin tahu apakah itu.”

4.      Dampak – dampak yang ditimbulkan Konflik

Walau konflik selalu terdapat dalam hubungan antarpribadi, pada umumnya masyarakat cenderung menganggap konflik sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Konflik dipandang dapat merusak suatu hubungan, maka harus dicegah. Jika konflik mengarah pada kondisi destruktif, memang hal tersebut dapat berdampak pada penurunan efektivitas suatu hubungan. Misalnya berupa penolakan, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa kekerasan.
Namun kini banyak orang mulai menyadari bahwa perusak itu bukan terletak pada konflik itu semata, tapi oleh cara kita menghadapi konflik yang ada. Kegagalan memecahkan konflik secara konstruktif, adil dan memuaskan kedua pihak lah yang merusak suatu hubungan. Kini konflik telah mendapat konotasi yang positif, misalnya sebagai ‘bumbu’ dalam hubungan antarpribadi, baik dalam persahabatan, keluarga, dan hubungan lainnya.
Sesungguhnya bila kita mampu mengelola suatu konflik dengan baik, konflik justru mendatangkan manfaat bagi orang yang mengalaminya. Manfaat positif adanya konflik antara lain (Johnson,1981) :
a.       Konflik dapat menjadikan kita sadar bahwa ada persoalan yang perlu dipecahkan dalam hubungan kita dengan orang lain. Misalnya kalau anda ingin menonton film horror tapi kekasih anda ingin menonton film drama, mungkin hal itu menandakan adanya perbedaan selera diantara kalian berdua yang perlu mendapat perhatian.
b.      Konflik dapat menyadarkan dan mendorong kita untuk melakukan perubahan-perubahan dalam diri kita. Kekasih anda marah karena anda lupa menjemputnya jalan-jalan, sebaiknya anda sungguh-sungguh mulai belajar mengatur waktu dan membuat catatan kegiatan dengan cermat.
c.       Konflik dapat menumbuhkan dorongan dalam diri kita untuk memecahkan persoalan yang selama ini tidak jelas kita sadari atau kita biarkan tidak muncul ke permukaan. Konflik dengan tetangga sebelah karena merasa terganggu oleh suara tape recorder yang disetel keras-keras mendorong kita untuk menyampaikan keberatan kita terhadap kebiasaannya membawa teman-teman dan mengobrol dengan suara keras hampir setiap malam mulai dari gelap hingga menjelang subuh.
d.      Konflik dapat menjadikan hidup seseorang lebih menarik. Perbedaan pendapat dengan seorang teman tentang suatu hal dapat menimbulkan perdebatan yang memaksa kita lebih mendalami dan memahami pokok hal tersebut, selain menjadikan hubungan kita tidak membosankan.
e.       Perbedaan pendapat akan membimbing ke arah tercapainya keputusan-keputusan bersama yang lebih matang dan bermutu. Dua kekasih yang bersitegang memilih restoran mana yang akan dijadikan tempat makan malam mereka, akhirnya memutuskan untuk memasak di rumah, menikmati masakan yang dibuat dengan kebersamaan sambil menonton televisi.
f.       Konflik dapat menghilangkan ketegangan-ketegangan kecil yang sering kita alami dalam hubungan kita dengan seseorang. Sesudah pertengkaran mulut yang cukup dahsyat, seorang sekretaris  akhirnya merasa terbebas dari kejengkelannya pada salah seorang koleganya yang suka sekali meminjam atau meminta peralatan dan perlengkapan tulis-menulis dari mejanya. Sesudah didamaikan oleh seorang teman lain, teman itu berjanji untuk tidak lagi mengganggunya dan akan lebih cermat merawat barang-barangnya.
g.      Konflik juga dapat menjadikan kita sadar tentang siapa atau macam apa diri kita sesungguhnya. Lewat pertengkaran dengan orang lain, kita menjadi lebih sadar tentang apa yang tidak kita  sukai, apa yang membuat kita tersinggung, apa yang sangat kita hargai dan sebagainya.
h.      Konflik juga dapat menjadi sumber hiburan. Kita sengaja mencari sejenis koflik dalam berbagai bentuk permainan dan perlombaan. Konflik dapat mempererat dan memperkaya hubungan. Hubungan yang tetap bertahan kendati diwarnai dengan banyak konflik, justru dapat membuat kedua belah pihak sadar bahwa hubungan mereka itu sangat berharga. Selain itu juga dapat menjadi semakin erat, sebab bebas dari ketegangan-ketegangan dan karenanya juga menyenangkan.
Kesimpulannya, konflik dalam hubungan antarpribadi sesungguhnya memiliki potensi menunjang perkembangan pribadi kita sendiri maupun perkembangan relasi kita dengan orang lain. Namun dengan catatan kita mampu menghadapi dan memecahkan konflik-konflik semacam itu secara konstruktif. Suatu konflik bersifat konstruktif bila sesudah mengalaminya hubungan kita dengan pihak lain justru menjadi lebih erat, dalam arti lebih mudah berinteraksi dan bekerjasama. Kita dan pihak lain justru lebih saling menyukai dan saling mempercayai. Kedua belah pihak sama-sama merasa puas dengan akibat- akibat yang timbul setelah berlangsungnya konflik. Kedua belah pihak makin terampil mengatasi konflik-konflik baru yang terjadi di antara mereka.

5.      Strategi dalam Mengatasi Konflik
Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan dalam penanganan konflik :
a.       Berkompetisi, Pilihan tindakan ini bisa sukses dilakukan jika situasi saat itu membutuhkan keputusan yang cepat, kepentingan salah satu pihak lebih utama dan pilihan kita sangat vital. Hanya perlu diperhatikan situasi menang-kalah akan terjadi disini. Pihak yang kalah akan merasa dirugikan dan dapat menjadi konflik yang berkepanjangan.Tindakan ini bisa dilakukan dalam hubungan atasan-bawahan, dimana atasan menempatkan kepentingannya (kepentingan organisasi) di atas kepentingan bawahan.
b.      Menghindari konflik, Tindakan ini dilakukan jika salah satu pihak menghindari dari situsasi tersebut secara fisik ataupun psikologis. Sifat tindakan ini hanyalah menunda konflik yang terjadi. Menghindari konflik bisa dilakukan jika masing-masing pihak mencoba untuk mendinginkan suasana, membekukan konflik untuk sementara.
c.        Akomodasi, Yaitu jika kita mengalah dan mengorbankan beberapa kepentingan sendiri agar pihak lain mendapat keuntungan dari situasi konflik itu. Hal ini dilakukan jika kita merasa bahwa kepentingan pihak lain lebih utama atau kita ingin tetap menjaga hubungan baik dengan pihak tersebut. Pertimbangan antara kepentingan pribadi dan hubungan baik menjadi hal yang utama di sini.
d.      Kompromi, Tindakan ini dapat dilakukan jika ke dua belah pihak merasa bahwa kedua hal tersebut sama-sama penting dan hubungan baik menjadi yang utama. Masing-masing pihak akan mengorbankan sebagian kepentingannya untuk mendapatkan situasi yang saling menguntungkan.
e.       Berkolaborasi, Menciptakan situasi seri dengan saling bekerja sama. Pilihan tindakan ada pada diri kita sendiri dengan konsekuensi dari masing-masing tindakan. Jika terjadi konflik pada lingkungan kerja, kepentingan dan hubungan antar pribadi menjadi hal yang harus kita pertimbangkan.
Namun biasanya kita tidak menyadari cara bertingkah laku kita dalam situasi-situasi konflik. Apa yang kita lakukan seolah-olah terjadi begitu saja. Maka bila kita terlibat dalam suatu konflik dengan orang lain, ada dua hal yang harus kita pertimbangkan :
§  Tujuan-tujuan atau kepentingan-kepentingan pribadi kita.
§  Hubungan baik dengan pihak lain.
Cara kita bertingkah laku dalam suatu konflik dengan orang lain, akan ditentukan oleh seberapa penting tujuan-tujuan pribadi dan hubungan dengan pihak lain kita rasakan. Berdasarkan dua pertimbanan di atas, dapat ditemukan lima gaya dalam mengelola konflik antarpribadi (Johnson, 1981) :


a.       Gaya kura-kura
Konon, kura-kura lebih senang menarik diri bersembunyi di balik tempurung badannya untuk menghindari konflik. Mereka cenderung menghindar dari pokok-pokok masalah maupun dari orang-orang yang dapat menimbulkan konflik. Mereka percaya bahwa setiap usaha memecahkan konflik hanya akan sia-sia. Lebih mudah menarik diri, secara fisik maupun psikologis, dari konflik daripada menghadapinya.
b.      Gaya ikan hiu
Ikan hiu senang menaklukkan lawan dengan memaksanya menerima solusi konflik yang ia sodorkan. Baginya, tercapainya tujuan pribadi adalah yang utama, sedangkan hubungan dengan pihak lain tidak terlalu penting. Konflik harus dipecahkan dengan cara satu pihak menang dan pihak lainnya kalah. Watak ikan hiu adalah selalu mencari menang dengan cara menyerang, mengunggli dan mengancam ikan-ikan lain.
c.       Gaya kancil
Seekor kancil sangat mengutamakan hubungan, dan kurang mementingkan tujuan-tujuan pribadinya. Ia ingin diterima dan disukai binatang lain. Ia berkeyakinan bahwa konflik harus dihindari, demi kerukunan. Setiap konflik tidak mungkin dipecahkan tanpa merusak hubungan. Konflik harus didamaikan, bukan dipecahkan, agar hubungan tidak menjadi rusak.
d.      Gaya rubah
Rubah senang mencari kompromi. Baginya, baik tercapainya tujuan-tujuan pribadi maupun hubungan baik dengan pihak lain sama-sama cukup penting. Ia mau mengorbankan sedikit tujuan-tujuannya dan hubungannya dengan pihak lain demi tercapainya kepentingan dan kebaikan bersama.
e.       Gaya burung hantu
Burung hantu sangat mengutamakan tujuan-tujuan pribadinya sekaligus hubungannya dengan pihak lain. Baginya konflik merupakan masalah yang harus dicari pemecahannya. Pemecahan itu harus sejalan dengan tujuan-tujuan pribadinya maupun lawannya. Konflik bermanfaat meningkatkan hubungan dengan cara mengurangi ketegangan diantara dua pihak yang berhubungan. Menghadapi konflik, burung hantu akan selalu berusaha mencari penyelesaian yang memuaskan kedua pihak. Penyelesaian yang juga mampu menghilangkan ketegangan serta perasaan negatif lain yang mungkin muncul di dalam diri kedua pihak akibat konflik itu.
  

  1. PENUTUP
            Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kami simpulkan bahwa:

1.      konflik dapat diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya

2.      Dalam suatu hubungan antar pribadi, terjadinya konflik dapat disebabkan oleh beberapa factor sebagai berikut:
a.       Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
b.      Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
c.       Perbedaan kepentinga antara individu

3.      Jenis jenis konflik terbagi dalam beberapa macam konflik sebagai berikut:

a.       Konflik Penghindaran
Konflik penghindaran meliputi banyak strategi untuk menghindari konfrontasi. Strategi tersebut tediri dari penolakan sederhana terhadap pernyataan-pernyataan yang pesimistik atau ambivalen
b.      Konflik Persaingan (Mengganggu)
c.       Konflik kolaborasi (intergratif)


4.      Konflik dipandang dapat merusak suatu hubungan, maka harus dicegah. Jika konflik mengarah pada kondisi destruktif, memang hal tersebut dapat berdampak pada penurunan efektivitas suatu hubungan. Misalnya berupa penolakan, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa kekerasan.
5.      Konflik sekarang di pandang sebagai “bumbu” pelengkap dalam suatu hubungan antarpribadi. Misalnya persahabatan, teman, pacaran, bahkan hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya bila kita mampu mengelola suatu konflik dengan baik, konflik justru mendatangkan manfaat bagi orang yang mengalaminya

6.      Ada lima cara untuk mengatasi konflik, yaitu dengan berkompetisi, mnghindari konflik, kompromi, berkolaborasi, dan akomodasi.

7.      Ada lima gaya dalam mengelola konflik antarpribadi (Johnson, 1981) :
a.       Gaya kura-kura
b.      Gaya Rebah
c.       Gaya ikan Hiu
d.      Gaya Kancil
e.       Burung Hantu




DAFTAR PUSTAKA

Steward dan Sylvia Moss. 1996. “Human Communication”. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.


0 komentar:

Posting Komentar