Selasa, Desember 31, 2013

ANTUSIASME REMAJA TERHADAP KESENIAN TRADISIONAL BEGALAN

ANTUSIASME REMAJA TERHADAP KESENIAN TRADISIONAL BEGALAN

A.     Latar Belakang Masalah
Dalam Era Globalisasi atau era modern seperti sekarang ini kesenian tradisional mulai terpinggirkan tak terkecuali kesenian tradisional Banyumas yang berangsur-angsur mulai punah  bahkan yang paling dikhawatirkan yaitu apakah masyarakat Banyumas 50 tahun ke depan masih bisa menyaksikan kesenian daerahnya sendiri seperti lengger, calung, ebeg, kenthongan, buncis, begalan, ujungan, dhames, dan sebagainya. Bisa dikatakan bahwa beberapa kesenian tradisional Banyumas berada dalam kondisi dilematis, hidup enggan mati tak mau.  Pada kenyataanya masih ada sebagian sisi dari masyarakat yang memiliki minat untuk berkesenian. Namun di lain sisi perhatian dan pembinaan kesenian oleh pemerintah atau instansi terkait sangat kurang dan memprihatinkan menyebabkan terjadinya kemunduran dan Indikatornya adalah makin jarang kelompok yang mementaskan kesenian tradisional Banyumas.
Salah satu tradisi upacara tradisional yang masih bertahan di Banyumas adalah upacara Begalan. Tradisi Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. Disebut begalan karena atraksi ini mirip perampokan yang dalam bahasa Jawa disebut begal. Yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan si pembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. Upacara ini diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Sebagai layaknya tari klasik, gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending. Jumlah penari 2 orang, seorang bertindak sebagai pembawa barang-barang (peralatan dapur), seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir, ian, cething, kukusan, saringan ampas, tampah, sorokan, centhong, siwur, irus, kendhil dan wangkring. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah dan jalannya upacara tradisi Begalan?
2.      Bagaimana antusiasme remaja terhadap kesenian tradisional khusunya begalan di era globalisasi seperti saat ini  dan seberapa besarkah pengaruh antusiasme remaja tersebut terhadap eksistensi atau keberlangsungan kesenian Begalan?

C.     Tujuan Penulisan
Bertolok dari rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan yang ingin dicapai yaitu mengetahui seperti apa kesenian tradisional Begalan itu baik dari segi sejarah dan ciri khasnya. Tujuan selanjutnya yaitu guna mengetahui bagaimana antusiasme remaja terhadap kesenian tradisional khusunya ebeg di era globalisasi seperti saat ini serta dapat pula mengetahui seberapa besarkah pengaruh antusiasme remaja terhadap eksistensi atau keberlangsungan upacara tradisional Begalan.













           
D.    Hasil dan Pembahasan

            Begalan memang suatu upacara tradisional yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang masyarakat Banyumas dan merupakan upacara tradisional yang penting diadakan terutama bagi pernikahan anak pertama. Upacara tradisional Begalan bukanlah upacara tradisional yang sembarangan. Ada berbagai penjelasan dan filosofi terhadap segala tindakan sang pembegal serta alat-alat yang digunakan Menurut para pakar budaya di Banyumas, tradisi begalan muncul sejak Pemerintah Bupati Banyumas ke XIV, saat itu Raden Adipati Tjokronegoro (tahun 1850). Pada jaman itu Adipati Wirasaba berhajat mengawinkan putri bungsunya Dewi Sukesi dengan Pangeran Tirtokencono, putra sulung Adipati Banyumas. Satu minggu setelah pernikahannya Sang Adipati Banyumas berkenan memboyong kedua mempelai dari Wirasaba ke Kadipaten Banyumas (ngunduh temanten), berjarak kurang lebih 20 km. Setelah menyeberangi sungai Serayu dengan menggunakan perahu tambang, rombongan yang dikawal sesepuh dan pengawal Kadipaten Wirasaba dan Banyumas, di tengah perjalanan yang angker dihadang oleh seorang begal (perampok) berbadan tinggi besar, hendak merampas semua barang bawaan rombongan pengantin. Terjadilah peperangan antara para pengawal melawan Begal raksasa yang mengaku sebagai penunggu daerah tersebut.Pada saat pertempuran akhirnya begal dapat dikalahkan. Kemudian lari menghilang masuk ke dalam Hutan yang angker dan wingit. Perjalanan dilanjutkan kembali, melewati desa Sokaweradan Kedunguter. Sejak itu para leluhur daerah Banyumas berpesan terhadap anak cucu agar mentaati tata cara persyaratan perkawinan, dikandung maksud kedua mempelai terhindar dari marabahaya.

Peraga Begalan
Tarian Begalan dibawakan oleh dua pemain pria yang dilakukan berpasangan. Seorang bertindak sebagai pembawa barang-barang (peralatan dapur) dan seorang bertindak sebagai  begal 'perampok'. Begalan ini membawakan dialog dengan gaya jenaka yang isinya berupa petuah-petuah penting bagi kedua mempelai atau penonton pertunjukan begalan tersebut. Nama tokoh dalam  setiap grup begalan dapat berbeda-beda. Mereka dapat menciptakan nama pemain sendiri sesuai selera, terdapat beberap nama tokoh yang sering dipakai dalam pertunjukan begalan yaitu Surantani, Sabdaguna, Guna (sebagai korban dalam perampokan) dan Surandenta, Rekadaya, Karya (sebagai perampok). Nama tersebut memiliki maksud seperti Sabdaguna yaitu semua yang diucapka mengandung nasehat yang berguna. Rekadaya berarti usaha/upaya. Karya berarti kerja sedangkan Guna adalah berguna.

Ubarampe Begalan
 Materi atau peralatan yang dibutuhkan dalam pementasan Begalan ini antara lain adalah:
1.       perkakas begalan;
Perkakas yang dipergunakan dalam kesenian begalan mengandung unsur simbolik. Simbol merupakan unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung makna dari tingkahlaku ritual yang bersifat khusus. Berikut beberapa perkakas begalan beserta simbolnya:
a.       pikulan (mbatan/wangkring);
Pikulan atau mbatan merupakan alat pengangkat brenong kepang bagi peraga Surantani (Pihak yang dibegal). Alat ini terbuat dari bambu. Pikulan melambangkan bahwa seorang laki-laki atau perempuan yang akan menikah harus dipertimbangkan dahulu bibit, bebet, dan bobotnya sehingga tidak menyesal dikemudian hari. Selain itu pikulan juga berarti bahwa nanti jika seseorang telah menikah, hendaknya segala suka dan duka dirasakan dan dipikul secara bersama-sama agar semuanya terasa lebih ringan.
b.      wlira (Pedang Wlira);
Alat yang digunakan untuk memukul salah satu alat-alat dalam brenong kepang. Wlira terbuat dari kayu panjangnya kurang lebih 1m, tebal 2cm, lebar 4cm. Pembawa alat ini adalah dari pihak pembegal atau Surandenta. Surandenta dan pedang wlira menggambarkan seorang laki-laki yang bertanggung jawab berani menghadapi sesuatu yang menyangkut keselamatan keluarga.
c.        brenong kepang;
Brenong kepang yaitu paralatan yang di bawa oleh Surantani utusan dari pihak pria yang berupa alat-alat dapur, seperti:
1)                 ian yaitu anyaman bambu panjangnya kurang lebih 1m berbentuk bujur sangkar. Merupakan alat untuk angi nasi. Melambangkan bumu tempat kita berpijak;
2)                 ilir yaitu anyaman bambu panjang dan lebarnya 35cm dan diberi tangkai sebagai alat untuk pegangan.  Melambangkan seseorang yang sudah berkeluarga agar dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk;
3)                 cething yaitu alat yang digunakan sebagai tempat nasi, terbuat dari anyaman bambu. Maksudnya adalah manusia hidup di bumi dan di tengah masyarakat tidak boleh sekehendak sendiri tanpa menghiraukan lingkungan dan sesame makhluk hidup;
4)                 kukusan yaitu alat penanak nasi yang dibuat dari anyaman bambu, berbentuk kerucut. Alat ini melembangkan bahwa aseorang yang sudah berani hidup berumah tangga harus berani berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya walaupun harus merasakan sesuatu yang kurang menyenangkan atau kurang diharapkan;
5)                 centhong yaitu alat yang terbuat dari kayu atau tempurung kelap, berfungsi untuk mengambil nasi. Maksudnya seseorang yang sudah berrumah tangga harus mau mengoreksi diri (introspeksi diri)sehingga jika ada perselisihan antara kedua belah pihak dapat segera diselesaikan. Selalu mengadakan musyawarah untuk mencapai mufakat sehingga terwujud keluarga yang sejahtera bagahia lahir dan batin;
6)                 irus yaitu Alat yang terbuat dari kayu atau tempurung kelapa, berfungsi untuk mengambil atau mengaduk sayur. Maksudnya adalah seseorang yang sudah berumah tangga janganlah senang mengambil orang lain atau tergiur dengan pria/wanita lain karena akan menyebabkan keretakkan dala rumah tangga;
7)                 siwur  yaitu alat yang terbuat dari tempurung kelapa yang diberi sedikit lubang pada bagian tengah dan kemudian diberi tangkai dari bambu atau kayu, berfumgsi untuk mengambil air. Siwur merupakan  kerata basa  'akronim' dari kata asihe aja di awur-awur  artinya orang yang sudah berrumah tangga harus dapat mengekang hawa napsu jangan suka menabur benih kasih sayang kepada wanita/pria lain. Sehingga tidak menimnulkan goncangan rumah tangga agar bahtera rumah tangganya dapat selamat.
Busana
Kostum dalam pementasan seni begalan  sangat sederhana dan tidak terlalu menuntut pada bahan-bahan yang mahal, warna-warna yang gemerlap ataupun model yang aneka ragam. Mereka cukup menggunakan pakaian adat Jawa. Pakaian yang biasanya dikenakan para pemain begalan antara lain adalah: Baju koko hitam, Stagen dan sabuk, Celana komprang hitam, Kain jarik atau sarung,  Sampur, Iket wulung hitam.



Musik/ Iringan
 Pentas kesenian begelan menggunakan musik dan iringan. Gendhing-gendhing Jawa yang biasanya digunakan untuk mengiringi pementasan ini antara lain adalah: Ricik-ricik Banyumasan, Gunung Sari Kalibagoran, Renggong kulon, Pisang balik, dan Eling-eling Banyumasan.

            Begalan bisa dikatakan sebagai kesenian tradisional yang hampir punah, karena eksistensinya yang mulai terancam. Hal ini dapat dilihat dari jarangnya pertunjukan begalan di daerah perkotaan dan faktanya memang kesenian ini lebih sering ditemukan di lingkungan masyarakat pedesaan. Kesenian yang sudah diwariskan secara turun temurun ini sebenarnya tak sepantasnya punah, hanya karena intensitas dilakukannya semakin menurun. Memang, jaman berkembang semakin modern, yang banyak orang berpikir akan tidak lagi diperlukannya kesenian semacam itu. Hal ini tentu saja dapat mempengaruhi persepsi dan pengetahuan tentang tradisi begalan pada remaja Banyumas. Padahal, seharusnya remaja-lah yang melestarikan tradisi yang dilakukan pada upacara pernikahan ini mengingat tradisi ini mengandung banyak makna positif yang disimbolkan dengan berbagai alat yang menjadi sebuah pengharapan terhadap kehidupan rumah tangga sang pengantin baru kelak.
            Berbicara mengenai antusiasme remaja Banyumas terhadap upacara tradisional begalan, penelitian yang kami lakukan mendapatkan hasil yang cukup bervariasi terhadap antusiasme remaja Banyumas. Remaja asli Banyumas pada umumnya memang mengetahui tentang begalan, terutama remaja yang berada di Desa Sokaraja seperti Sofia Hidayatun. Remaja 16 tahun yang mengenyam pendidikan di SMK N 1 Banyumas ini mengetahui mengenai peraga dan ubarampae begalan. Ia mengaku bahwa tradisi begalan ini Ia ketahui melalui media pendidikan, seperti buku serta lingkungan sekitar yang memang masih menjalankan tradisi begalan dalam upacara pernikahan. Diketahui bahwa antusiasme Sofi sangat tinggi terhadap tradisi begalan tersebut. Hal ini dapat disimpulkan dari pengetahuan yang Ia kuasai mengenai tradisi begalan, bahkan hingga mitos mengenai begalan sekalipun. Meskipun keberadaan begalan hampir punah, Sofi berpendapat bahwa tradisi ini harus terus dilestarikan karena sudah diwariskan secara turun temurun. Caranya bisa dengan memberikan pengetahuan lebih terhadap tradisi begalan melalui pendidikan formal, seperti sekolah sehingga anak-anak dan remaja akan mengetahui tentang tradisi begalan ini. Kemudian ada Winda Eka Kurniawati yang merupakan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Winda mengaku mengetahui mengenai begalan hanya sebatas ubarampe yang digunakan. Winda mengetahui tentang tradisi begalan ini karena lingkungannya masih menjalankan tradisi ini. Lingkungannya yang masih berada satu kawasan dengan Sofia, namun Ia menaruh antusiasme yang rendah terhadap tradisi begalan di lingkungannya karena Ia justru jarang mempunyai keinginan melihat tradisi ini meskipun lingkungannya melakukan. Meskipun Winda dan keluarganya asli Jawa Timur, namun Ia berpendapat bahwa begalan itu hukumnya wajib dilakukan pada upacara pernikahan anak pertama karena Ia kini sudah menetap di Banyumas yang memiliki tradisi begalan ini. Winda menganggap begalan sebenarnya sudah tidak relevan di jaman yang modern seperti sekarang, meskipun terdapat mitos mengenai begalan itu sendiri, tetapi Ia berpendapat mitos itu tidak berpengaruh karena itu tergantung dari kemampuan individunya masing-masing dalam menjalin hubungan rumah tangga.



BEGALAN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BANYUMAS

Orang Banyumas merupakan bagian dari Orang Jawa yang dalam kehidupannya lekat dengan berbagai macam kegiatan ritual sebagai pelakanaan dari ajaran ketuhanan yang dipercayainya. Herusatoto dalam bukunya yang berjudul Simbolisme dalam Budaya Jawa mengungkapkan bahwa ajaran filsafat Jawa ditujukan agar manusia mencapai kesempurnaan (seek of prefect). Pandangan filsafat demikian didasari oleh pemahaman terhadap Tuhan Semesta Alam sehingga menuntun pemikiran manusia tentang urip (hidup) di dunia; mbiyen ora ana, saiki dadi ana, mbesuk maneh ora ana (dahulu tidak ada, sekarang ada, besok tidak ada). Dengan demikian pemahaman filsafat Jawa tidak sekedar filsafat keduniaan, melainkan untuk mencari kesempurnaan hidup setelah mati (insan kamil).
Keberadaan kesenian begalan di daerah Banyumas tidak lepas dari ajaran-ajaran tentang pencapaian hidup sempurna tersebut. Ajaran kesempurnaan tidak hanya mencakup apa yang akan terjadi setelah mati, melainkan juga bagaimana mencari sangu (bekal) agar setelah mati olih dalan padhang (mendapat jalan terang) dalam rangka penyatuan dengan Tuhan. Di dalam begalan dapat dijumpai properti-properti tertentu yang dijadikan sebagai sarana pengungkapan ajaran-ajaran kehidupan agar kedua mempelai yang akan memasuki hidup baru mengarungi bahtera rumah tangga mampu mendudukkan dirinya sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Sebagai makhluk individu diajarkan bagaimana mengenali diri agar asal mula-mulanira (asal muasal manusia), sehingga sadar akan hak dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan. Sebagai makhluk sosial diajarkan bagaimana seseorang mampu menempatkan diri secara proporsional dalam lingkungan keluarga (sebagai istri atau suami, sebagai ayah atau ibu serta jadi anak atau menantu), dalam lingkungan sosial masyarakat serta lingkungan alam sekitar. Dengan demikian dapat terwujud keselarasan hidup baik antar manusia maupun dengan alam yang memberikan sumber penghidupan.
Di dalam begalan terdapat berbagai macam cara untuk mengungkapkan ajaran-ajaran yang harus dilaksanakan oleh kedua mempelai yang nota bene telah menjadi manusia dewasa dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sosialnya. Sebagai manusia maka ia harus dapat membedakan hak dan kewajiban, benar dan salah, pahala dan dosa.
Bagi masyarakat Banyumas yang hidup dengan latar belakang kehidupan tradisional agraris, ajaran-ajaran seperti itu tidak mungkin diajarkan sekedar lewat wacana sosial melalui kata-kata verbal. Masyarakat Banyumas tradisional pada umumnya merasa kuthunging kawruh (sedikit pengetahuan) sehingga tidak pandai membuat kata-kata berkias yang mengandung nilai sastra tinggi sebagaimana pada ajaran-ajaran di dalam sastra Jawa yang bersumber dari kalangan istana. Ajaran melalui begalan merupakan ajaran filosofis dalam bentuk visual sehingga mudah ditangkap melalui panca indera dan langsung dicerna ke otak bukan dengan cara menghafal. Ajaran seperti ini sangat cocok untuk masyarakat yang hidup di daerah-daerah pedesaan yang tidak banyak mengenyam pengetahuan sastra kraton yang diungkapkan melalui kata-kata indah dalam karya sastra.
Masyarakat pedesaan di daerah Banyumas akan merasa lebih mudah menangkap makna filosofis tentang jagad gumelar (makro kosmos) dan jagad gumulung (mikro kosmos) melalui ian yang secara visual memiliki empat pojok dan senantiasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di dapur. Ajaran-ajaran tentang kosmologi maupun epistemologi sebagaimana diungkapkan dalam karya-karya sastra macam Serat Wirid Hidayat Jati karya R.Ng. Ranggawarsito bukanlah bagian dari kehidupan mereka. Dengan demikian empat pojok pada alat rumah tangga yang bernama ian sudah cukup untuk menggambarkan empat penjuru mata angin yang ada dalam jagad gumelar (makro kosmos). Dengan belajar tentang makro kosmos tadi maka seseorang akan dapat mengimbanginya dengan belajar mikro kosmos yang ada dalam dirinya sehingga dapat ngrumat (merawat) agar dapat lestari kehidupan manusia di dunia.
Harapan-harapan tentang kehidupan yang bahagia dan sejahtera cukup digambarkan melalui dua negara yang sedang besanan yaitu negeri Medhang Kamulan dan negeri Kahuripan. Medhang Kamulan dapat diartikan sebagai pintu kemuliaan, pintu kebahagiaan. Adapun Kahuripan dapat diartikan kehidupan, yakni kehidupan yang selaras (harmonis) antar sesama makhluk Tuhan yang meliputi makhluk manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan bangsa alus (makhluk halus).
Kesenian begalan benar-benar merupakan pengungkapan intisari filsafat kehidupan masyarakat Banyumas ala masyarakat pedesaan. Dengan demikian melalui kesenian ini dapat dilihat kesederhanaan pola pikir masyarakat pedesaan di daerah Banyumas yang merupakan komunitas masyarakat marginal survival yang berada jauh dari lingkungan istana sebagai pusat kekuasaan sekaligus pusat pertumbuhan kebudayaan.


12/31/2013 8:43:14 PM
rekomendasi buku
islam dalam tradisi begalan –suwito NS
acara pengantin berbagai gaya
seni tradisional begalan






0 komentar:

Posting Komentar