Jumat, Maret 08, 2013

Journal's Review




REVIEW JURNAL
MENGUNGKAP GANGGUAN KEHIDUPAN DAN KERJA PADA PRIA MUSLIM AUSTRALIA : IMPLIKASI TERHADAP HRM

Diambil dari :
New Zealand Journal of Human Resources Management
Penulis :
Dr Adem Sav
Griffith Health Institute, Griffith University, Australia

Dr Neil Harris
Griffith Health Institute, Griffith University, Australia

Dr Bernadette Sebar
School of Public Health, Griffith University, Australia










PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Sebagai seorang lelaki yang berkewajiban menafkahi keluarga, mereka menjalani itu semua bukanlah tanpa masalah. Dan mungkin memang hampir di seluruh dunia para pekerja selalu mengalami masalah entah itu berkaitan dengan tempat kerja atau bahkan di kehidupan pribadinya. Penelitian ini memfokuskan diri pada Pria Muslim Australia. Penelitian ini memberikan kontribusi untuk pemahaman kita tentang bagaimana keyakinan yang berbeda budaya dan agama mempengaruhi gangguan kehidupan dengan pekerjaan, serta membahas implikasinya untuk manajemen sumber daya manusia (HRM). Dalam definisi yang paling sederhana, seorang Muslim adalah orang yang memeluk agama Islam, atau lahir dalam keluarga Muslim, dan percaya pada keesaan Allah dan penutup para Nabi Muhammad. Muslim Australia memiliki nilai budaya dan agama yang berbeda, yang menunjukkan bahwa gangguan pekerjaan terhadap kehidupan dapat dialami secara berbeda dari populasi Australia yang umum. Dalam memahami msalah yang dialami para pria muslim merupakan hal yang penting dalam sudut pandang manajemen karena gangguan kehidupan dan pekerjaan dianggap menjadi inti dari masalah penting HRM. Berkaitan dengan masalah ini, bahwa organisasi perlu menyadari kebutuhan khusus pekerja mereka untuk mempromosikan budaya kerja keluarga mendukung (Bardoel, Moss, Smyrnios, & Tharenou, 1999; Geurts & Demerouti, 2003). Sehingga para pekerja mampu mencapai tingkat keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. Penilaian dalam menemukan jalan. Tantangannya dalam menciptakan keseimbangan hidup antara pekerjaan dan kehidupan adalah adanya suatu keharusan penyelesaian terhadap berbagai hal dalam pekerjaan  Dan di waktu yang sama, mereka harus berada di rumah mereka harus meluangkan waktu dengan pasangan mereka , teman-teman, anak-anak, dan lain-lain. Rekan-rekan kerja berharap kapan mereka akan selesai melakukan pekerjaan, sementara orang-orang dekat dalam kehidupan anda berharap kapan anda akan ada di rumah. Semua penilaian ini, baik secara internal maupun eksternal, nyata atau hanya bayangan, akan masuk ke jalur pencarian keseimbangan yang harus dicari.
TEORISTIS DASAR
Penelitian ini diinformasikan oleh model teoritis yang menyoroti pengaruh budaya pada gangguan pekerjaan dan keluarga. Penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi dan prevalensi gangguan  kerja dan kehidupan, cenderung bervariasi lintas budaya (Aycan & Eskin, 2005; Grzywacz et al, 2007;. Lim, Song, & Choi, 2012; Liu & Rendah, 2011; Powell, Francesco, & Ling, 2009). Peran dari pekerjaan dan keluarga mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi, dan peran pekerjaan dan keluarga yang dianggap tersegmentasi dalam masyarakat individualistis dan terintegrasi dalam masyarakat kolektif (Aycan, 2008). Sedangkan ketidaksesuaian antara peran pekerjaan dan keluarga menyebabkan adanya campur tangan diantara keduanya dalam masyarakat individualistis (Joplin, Shaffer, Francesco, & Lau, 2003). Yang, Chen, Choi dan Zou (2000) melakukan penelitian terhadap masyarakat Amerika dan China yang keduanya memiliki perbedaan kepribadian. Dimana masyarakat Amerika yang cenderung individualistis, justru tuntutan keluarga lah yang memberikan dampak lebih besar terhadap gangguan pekerjaan mereka. Sedangkan pada masyarakat china yang kolektif tuntutan pekerjaan lah yang memberikan dampak lebih besar terhadap gangguan pekerjaan karena mengorbankan waktu keluarga untuk bekerja dalam masyarakat kolektif dianggap sebagai pengorbanan diri untuk kepentingan keluarga. Dan pada masyarakat individualistis mengorbankan waktu keluarga untuk tugas kerja pada umumnya dipandang sebagai kegagalan Yang et al. (2000). Dan dalam hal ini Pria Muslim Australia termasuk dalam golongan masyarakat kolektif. Penelitian mengeksplorasi peran budaya pada pengalaman pekerjaan dan keluarga telah meningkat selama dekade terakhir, sebagian besar penelitian telah dilakukan dengan menggunakan sampel pada Asia. Studi ini akan membantu untuk mengisi kesenjangan dengan mengungkap gangguan kehidupan kerja dalam sampel pekerja laki-laki Muslim Australia, kelompok minoritas ditandai dengan keragaman budaya. Penting untuk dicatat bahwa fokus dari penulis adalah pada kaitannya antara pekerjaan terhadap kehidupan daripada pekerjaan terhadap keluarga untuk menggabungkan peran sosial di luar pekerjaan. Penulis memperkirakan bahwa pria Muslim akan menghabiskan berjam-jam di tempat kerja karena peran pencari nafkah dan mengalami tingkat yang lebih tinggi dari gangguan pekerjaan dan hidup daripada gangguan kehidupan dan pekerjaan. Maka dari itu, penulis menduga bahwa jam kerja akan memiliki efek yang lebih signifikan terhadap gangguan daripada tuntutan pekerjaan.
METODE PENELITIAN
Subyek dari penelitian ini adalah Pria Muslim di Australia. Sebanyak 301 peserta direkrut dari berbagai organisasi Islam / masjid di South East Queensland (SEQ) untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Peserta diperkenankan untuk mengisi kuesioner, Data juga dikumpulkan oleh peserta melalui World Wide Web (internet). Sejumlah item demografis dimasukkan dalam kuesioner. Peserta diminta untuk menentukan usia mereka, latar belakang etnis dan budaya, kualifikasi pendidikan, pekerjaan, total pendapatan rumah tangga, status pekerjaan (paruh waktu atau penuh waktu karyawan), kepemilikan, jumlah dan usia tanggungan, negara tempat tinggal antara kelahiran dan 18 tahun, status perkawinan, dan status pasangan kerja. Peserta diminta untuk menjawab 11 pertanyaan menanyakan seberapa sering pekerjaan mereka berinteraksi negatif terhadap kehidupan pribadi mereka dan seberapa sering kehidupan pribadi mereka berdampak negatif pada pekerjaan mereka. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini termasuk pada Penelitian Survey karena data yang dipelajari adalah data dari sample yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variable. Penelitian ini juga termasuk dalam Penelitian Asosiatif dimana penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dua variable atau lebih yaitu variable gangguan pekerjaan dan kehidupan  dan variable implikasinya terhadap Human Resources Management. Dan menurut jenis data ang dianalisis penelitian ini tergolong pada Penelitian Kualitatif dimana peneltian yang menggunakan data kualitatif yaitu data yang berbentuk data, kalimat, skema, serta gambar walaupun terdapat juga sedikit angka.

                                                                                  









PEMBAHASAN
GANGGUAN KERJA DAN KELUARGA
Dalam menjalani kehidupan pribadi dan kehidupan kerja, pasti terdapat tekanan diantara keduanya. Terlalu panjangnya jam kerja dapat berpengaruh terhadap keluarga mereka. Sementara terlalu banyaknya pekerjaan rumah juga berpengaruh terhadap kehidupan kerja mereka. Jika tidak hati-hati, pekerjaan kita bisa menghancurkan kehidupan pribadi dan keluarga kita. Semakin pekerjaan kita maju, keluarga kita semakin berantakan. Ini sebenarnya bukan hal yang aneh jika memang para pekerja tidak bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Sudah banyak keluarga menjadi korban dari kesuksesan seseorang dalam pekerjaannya, ini adalah hal yang sangat ironis. Sudah seharusnya kesuksesan dalam pekerjaan diimbangi kesuksesan kita membangun keluarga.
ANTISEDEN(PENYEBAB) DAN HASIL DARI GANGGUAN KERJA DAN KELUARGA
Diidentifikasi pekerjaan yang berhubungan dengan anteseden termasuk hubungan kerja negatif, seperti jam kerja yang panjang dan tidak fleksibel, kelebihan peran, ketidakjelasan peran, keterlibatan kerja, tidak adanya pemanfaatan keterampilan, ketidakamanan kerja, serta shift dan kontrol rendah di atas kondisi kerja (Byron, 2005; Michel, Kotrba, Mitchelson, Clark, & Baltes, 2011). Sedangkan sebuah hubungan positif yang kuat adalah bila dimana seorang yang memiliki jam kerja yang tinggi maka semakin besar juga kemungkinan mereka mengalami gangguan (Byron, 2005; Michel, et al, 2011;. Sharma, 2012). Hal ini karena jam kerja merupakan suatu  permintaan dari perusahaan tempat mereka bekerja yang membutuhkan waktu yang mungkin lebih banyak yang pada akhirnya seseorang akan menghabiskan waktu di tempat kerja dan kehidupan non kerja akan sedikit lebih terbaikan. Selain itu status perkawinan (menikah), jumlah tanggungan, status pekerjaan dari pasangan, dan adanya konflik atau gangguan dari pasangan semuanya telah dikaitkan dengan keluarga dan gangguan dari pekerjaan itu ( Michel, et al, 2011.).
Disisi lain terdapat penelitian yang memberikan gambaran yang jelas tentang hasil negatif dari gangguan pekerjaan dan kehidupan pada tempat kerja, mengacu pada fakta bahwa tempat kerja memiliki kepentingan dalam meminimalkan gangguan antara karyawan mereka (Bruck, Allen, & Spector, 2002; Dixon & Sagas , 2007). Namun terdapat juga gangguan kerja dan keluarga dimana apabila terdapat ketidakpuasan kerja dari keluarga, dan merasa terdapat hal yang justru mengganggu keluarga dan kehidupan pribadi mereka, maka para pekerja akan mulai menyalahkan pekerjaan mereka dan tempat kerjanya.

GANGGUAN KERJA DAN KELUARGA DARI PERSPEKTIF PRIA
Sebenarnya gangguan pekerjaan telah dialami oleh pria dan wanita, yang justru sebagian besar difokuskan pada wanita, dimana penekanan pada wanita dapat dimengerti mengingat jumlah waktu yang mereka habiskan untuk menjalani tugas dalam keluarga dan beberapa kelemahan yang mereka alami di tempat kerja karena jenis kelamin mereka (Mooney, 2009). Karena misalnya saja saat wanita itu sedang hamil, mungkin dia harus mulai mengurangi porsi kerjanya, demi menjaga kesehatan tubuhnya. Hal ini tentu saja akan sedikit mengganggu penyelesaian kerjanya. Kemudian pada perspektif pria, Lewis, Gambles dan Rapoport (2007) berpendapat bahwa biasanya tempat kerja terus menganggap laki-laki sebagai pekerja yang ideal yang dibebani dengan komitmen keluarga dan lainnya namun tetap bersedia bekerja dengan waktu penuh tanpa alasan. Terkait dengan peran gender itu sendiri mengemukakan tentang laki-laki sebagai pekerja, ayah dan suami dengan pengalaman kerja dan non-kerja tetap menjadi fokus khusus terhadap gangguan. Seorang pria seharusnya mampu menjadi pemimpin yang hebat di dalam pekerjaan, namun juga harus menjadi pemimpin hebat di dalam keluarga. Jika pria hanya hebat di meja kerja, namun tidak hebat di meja makan saat bersama keluarga, maka pria itu sebenarnya sedang mengalami kegagalan di dalam hidup. Bagaimanapun juga pekerjaan tidak akan bisa menjadi lebih penting dan lebih berharga daripada keluarga. Tidak ada yang bisa menggantikan hal itu, termasuk pekerjaan yang sangat sukses sekalipun.

PENGALAMAN PRIA MUSLIM AUSTRALIA
Muslim Australia adalah kelompok minoritas yang berkembang budaya dan etnis di Australia (Australian Bureau of Statistics [ABS], 2011). Sensus 2011 terbaru menunjukkan bahwa ada sekitar 476.290 Muslim di Australia, meningkat hampir 40% dari angka sensus 2006 dari 340.392 (ABS, 2011). Muslim juga minoritas yang signifikan di Selandia Baru dan ada sekitar 41.000 Muslim dari yang berada di Selandia Baru pada tahun 2010 (Pew Research Center, 2011). Berbeda dengan populasi Australia yang lebih luas, Muslim di Australia dan Selandia Baru terdiri dari laki-laki lebih dari perempuan dan secara signifikan lebih muda (ABS, 2006; Federasi Asosiasi Islam Selandia Baru, 2009). Struktur usia umat Islam di kedua negara menunjukkan bahwa mereka terkonsentrasi pada tahun-tahun lebih ekonomis produktif pada hidup mereka, kemudian lebih menyoroti pada pengungkapan bagaimana mereka mengalami gangguan kehidupan kerja. Muslim, seperti banyak kelompok minoritas lain di Australia dan Selandia Baru, yang ditandai dengan keragaman etnis, sosial dan budaya (Kolig, 2003; Rane, Ewart, & Abdalla, 2010). Meskipun penting untuk mengakui keragaman ini, ada nilai-nilai dan keyakinan yang umum bagi banyak warga Muslim. Sebagian besar nilai-nilai dan keyakinan yang terkait dengan agama dan budaya.
Sav, sebar dan Harris (2010), baru-baru ini mengkaji bagaimana tempat kerja dan kesehatan mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan laki-laki Muslim. Para pria menunjukan kepuasan terhadap tempat kerja mereka dan berkomitmen terhadap pekerjaan mereka, ketika mereka percaya bahwa tempat kerja mereka memahami dan memperhatikan komitmen kehidupan mereka khususnya yang berkaitan dengan agama.  Dan salah satu lelaki muslim menyatakan bahwa adanya konsekuensi positif dari tempat kerja mereka terhadap gangguan kehidupan dan pekerjaan yang dapat membantu menyeimbangkan komitmen diantara kedua bidang tadi. Berarti dapat disimpulkan bahwa para pekerja dapat berkomitmen kuat terhadap tempat kerja mereka yang mampu menyeimbangkan antara kehidupan kerja mereka dan bidang agama. Terlepas dari Jurnal ini, terkait dengan gangguan pekerjaan yang dihadapi kaum muslim di Australia, pada halaman http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/muslim-australia-inginkan-adanya-libur-di-hari-raya.htm#.UOe299nnhJE ditemukan bahwa muslim di Australia inginkan adanya libur di hari raya, sehingga mereka bisa menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Hal ini menimbulkan adanya diskriminasi terhadap hari besar muslim di Australia. Pemerintah seolah hanya memberikan kesempatan cuti pada agama Kristen saja terhadap hari besarnya yang menimbulkan kesan seolah-olah Australia bangsa Kristen, yang dalam hal ini justru akan menimbulkan masalah terhadap agama selain Islam pula. Sebuah laporan pemerintah baru-baru ini mengungkapkan bahwa umat Islam menghadapi Islamofobia mendalam dan tindakan berbasis ras yang belum pernah ada sebelumnya. Keysar Trad, Presiden Asosiasi Persahabatan Islam, mengatakan kepada Australian Associated Press (AAP) mengatakan bahwa mengakui hari libur keagamaan bagi umat Islam Australia akan membantu mempromosikan adanya kohesi ditengah-tengah masyarakat. Merayakan hari libur keagamaan, sebenarnya sangat baik untuk menjalin hubungan diantara masyarakat. Ini membuktikan bahwa pemerintah Australia masih kurang memperhatikan kaum yang minoritas. Itu memang merupakan fakta umum bahwa cuti hari besar itu sangat dibutuhkan. Ini termasuk dalam gangguan pekerjaan terhadap keluarga, karena muslim Australia tersebut seharusnya berhak merayakan hari besar mereka bersama keluarga dan melepaskan sejenak kepenatan terhadap berbagai tuntutan pekerjaan, yang sayangnya oleh pemerintah Australia masih kurang direspons.
HASIL PENELITIAN/DISKUSI :
Penelitian ini konsisten dilakukan terhadap penelitian pekerjaan dan kehidupan pada masyarakat kolektif. Penelitian ini juga menunjukan bahwa pada pekerja dengan budaya masyarakat kolektif memang sedikit mengalami gangguan antara pekerjaan dan keluarga. Dan ditemukan bahwa pria Muslim Australia mengalami tingkat gangguan yang jarang (rendah sampai sedang). Bahkan, penelitian sebelumnya dengan laki-laki Muslim Australia menunjukkan bahwa mungkin antara peran kerja dan kehidupan yang dialami intensitasnya lebih sering daripada gangguan yang terjadi (Sav et al., 2010). Karena itu, bekerja yang mempengaruhi keluarga dan kehidupan pribadi lebih menonjol daripada keluarga dan kehidupan pribadi yang mempengaruhi pekerjaan. Selain itu, mengingat bahwa semua peserta baik lahir / dibesarkan atau menghabiskan sebagian besar hidup mereka di Australia, temuan penulis menunjukkan bahwa budaya dan agama yang merupakan bentuk keyakinan dari kerja. Tuntutan pekerjaan adalah prediktor terkuat dari pekerjaan itu sendiri terhadap kehidupan dibandingkan bekerja dengan tuntutan jam, religiusitas dan keluarga. Berarti memang tuntutan dari tempat mereka bekerja lah yang terkadang menimbulkan masalah internal terhadap diri masing-masing individu.
               Hal ini mencerminkan gagasan bahwa jam kerja adalah prediktor kurang signifikan dari gangguan kerja terhadap kehidupan dari beban kerja yang dirasakan (umumnya dikonseptualisasikan sebagai tuntutan pekerjaan) dalam masyarakat kolektif (misalnya Lu, Kao, Chang, Wu, & Cooper, 2008; Spector et al. , 2004). Temuan ini juga menantang pemahaman dominan bahwa jam kerja yang menjadi hal lebih kuat dari gangguan terhadap tuntutan pekerjaan dan menunjukkan bahwa perhatian yang lebih besar mungkin perlu diberikan kepada tuntutan pekerjaan, terutama bagi pekerja dari latar belakang non-tradisional. Ini berarti menunjukan bahwa adanya tuntutan pekerjaan dari tempat mereka bekerja akan lebih memperbesar timbulnya gangguan. Karena tidak semua individu mampu memenuhi tuntutan pekerjaan, namun tetap mampu memenuhi bila adanya penambahan jam kerja. Selain itu dalam masalah keluarga terkait seperti pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga, semuanya meningkatkan risiko adanya gangguan kehidupan terhadap pekerjaan (Byron, 2005; Michel, et al, 2011.). Penulis mengemukakan bahwa peran agama terhadap para pekerja muslim tersebut dapat menghasilkan energi positif yang dapat memungkinkan pria muslim mengatasi gangguan. Hasil ini juga mendukung adanya perbedaan antara hal yang berkaitan pada pekerjaan memiliki pengaruh terhadap kehidupan dan gangguan-gangguan hidup yang juga memberikan pengaruh terhadap pekerjaan. Pekerjaan yang berhubungan dengan suatu antiseden akan berkaitan menimbulkan gangguan pada pekerjaan itu sendiri. Sementara keluarga yang berhubungan dengan suatu antiseden akan berkolerasi lebih dengan gangguan kehidupan terhadap pekerjaan. Jadi kesimpulannya, adanya gangguan kerja terhadap kehidupan merupa prediktor yang kuat yang menimbulkan adanya ketidakpuasan pada pekerjaan mereka. Hal ini konsisten dengan penelitian dalam budaya baik kolektif dan individualistis, yang mengindikasikan bahwa adanya gangguan pekerjaan yang berdampak pada keluarga lebih berkaitan terhadap kepuasan kerja mereka, daripada gangguan dalam keluarga terhadap pekerjaan.

IMPLIKASI TERHADAP HRM :
Penelitian ini memiliki implikasi penting terhadap Sumber Daya Manusia karena peranan dari manajemen SDM adalah mempertemukan atau memadukan antara perusahaan, karyawan, dan masyarakat luas, menuju tercapainya efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan kinerja perusahaan. Dan hasilnya, diketahui bahwa gangguan kerja terhadap kehidupan lebih umum dialami pada kalangan laki-laki Muslim daripada gangguan kehidupan pribadi terhadap pekerjaan. Oleh karena itu, program penargetan kerja diarahkan untuk mengurangi pekerjaan yang mengganggu kehidupan. Kedua, penelitian ini menunjukkan ketidakpuasan kerja akibat gangguan pekerjaan terhadap kehidupan dapat berdampak bagi pekerja dan organisasi. Untuk organisasi, imperatif ekonomi harus mendukung promosi dari tempat kerja dengan adanya bidang pekerjaan terhadap kehidupan yang ramah yang mendukung terhadap kehidupan non kerja atau kehidupan pribadi karyawannya. Dengan tidak adanya suatu budaya yang mendukung, karyawan cenderung mengalami konsekuensi negatif dari gangguan pekerjaan terhadap kehidupan termasuk ketidakpuasan kerja, absensi, dan adanya komitmen yang rendah dari mereka terhadap organisasi itu sendiri.
Sebenarnya agama mempunyai tingkat keterkaitan yang tinggi terhadap gangguan-gangguan itu, karena islam menekankan pentingnya pembayaran terhadap suatu pekerjaan tersebut mengingat itu merupakan sumber kemerdekaan dan cara mempromosikan pertumbuhan/potensi pribadi, hanya saja kekuatan hubungannya lemah. Oleh karena itu, jika tempat kerja gagal untuk mempertimbangkan peran agama dan implikasinya terhadap bagaimana pekerja dalam mencurahkan waktu dan energi untuk bekerja secara komitmen, mereka mungkin gagal untuk menciptakan lingkungan kerja yang sensitif terhadap peran kehidupan pekerja. Artinya memang terdapat hal kuat untuk memasukkan komitmen non kerja (agama, sosial, rekreasi, studi dll) terkait dengan kehidupan mereka dengan keluarga mereka. Karena untuk melakukan suatu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi para pekerja itu memang hal yang penting.
Disarankan bahwa aspek lingkungan kerja, terutama yang berkaitan dengan tuntutan pekerjaan secara berkala ditinjau dan diawasi secara ketat untuk mempromosikan budaya kerja yang mendukung pekerja dengan kebutuhan dan beragam dan tanggung jawab. Terlepas dari jurnal tersebut sebagai contoh saja, Belanda yang berhasil menjadi negara terbaik kedua dalam hal Work-Life Balance berdasarkan studi yang dilakukan oleh OECD (Organisation of Economic Co-operation and Development) pada tahun 2011. OECD mendefinisikan Work-Life Balance dalam tiga variabel utama yaitu proporsi tenaga kerja yang memiliki jam kerja sangat panjang (lebih dari lima puluh jam dalam seminggu), waktu yang digunakan untuk aktivitas pribadi dan rekreasi dan tingkat ketenagakerjaan wanita yang memiliki anak. Orang-orang Belanda bekerja sebanyak 1378 jam per tahun yang merupakan angka terendah menurut OECD. Hebatnya, jam kerja yang rendah justru tidak membatasi produktivitas orang-orang Belanda. Buktinya, pada bulan Februari lalu Ilmuwan nano Leo Kouwenhoven berhasil mendeteksi partikel majorana yang berhasil menimbulkan kegemparan di kalangan ilmuwan. Tidak hanya itu, Spark dan Pal-V Europe NV selangkah lagi berhasil menciptakan mobil terbang PAL-V,  juga Profoser Mark van Loosdrecht, ilmuwan Belanda, yang berhasil memenangkan Lee Kuan Yew Water Prize tahun ini atas penemuannya mengenai metode untuk menghilangkan nitrogen dari air limbah. Inilah salah satu bukti bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas. Bercermin pada hal tersebut pemerintah Australia seharusnya memang lebih mengatur jam kerja terhadap karyawannya terutama bagi kaum minoritas seperti muslim agar mampu menyeimbangkan antara pekerjaan dengan keluarga tersebut. Karena kesinergisan diantara keduanya diharapkan mampu mendorong pekerja untuk terus berkreasi dan menciptakan inovasi-inovasi baru. Berbagai gangguan pekerjaan yang dihadapi para pekerja terhadap kehidupan pribadi mereka inilah yang justru dapat menyebabkan stres kerja. Stres kerja adalah suatu kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidakseimbangan antara fisik dan psikis yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seorang karyawan. Dalam mengatasi stres kerja seperti ini perlu dilakukan beberapa pendekatan. Prof.Dr.Veithzal Rivai, M.B.A menjelaskan dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan dari Teori ke Praktek bahwa terdapat dua pendekatan stres kerja, yaitu pendekatan individu dan perusahaan. Bagi individu penting dilakukan pendekatan karena stres dapat mempengaruhi kehidupan, kesehatan, produktivitas, dan penghasilan. Dan dalam jurnal ini juga sudah dibahas bahwa gangguan kerja dapat mempengaruhi ketidakpuasan mereka terhadap perusahaan/organisasi itu sendiri. Bagi perusahaan bukan saja karena alasan kemanusiaan, tetapi juga karena pengaruhnya terhadap prestasi semua aspek dan efektivitas dari perusahaan secara keseluruhan. Perbedaan pendekatan individu dengan pendekatan organisasi tidak dibedakan secara tegas, pengurangan stres dapat dilakukan pada tingkat individu,organisasi maupun keduanya. Dalam pendekatan individu itu meliputi peningkatan keimanan, melakukan meditasi dan pernafasan, melakukan kegiatan olahraga, melakukan relaksasi, adanya dukungan social dari teman-teman dan keluarga, serta menghindari kebiasaan rutin yang membosankan. Namun terkait dengan pembahasan jurnal ini terkait dengan pria muslim Australia, terdapat fakta yang paling utama bahwa peningkatan keimanan memang sangat diperlukan. Perusahaan, dalam memaksimalkan sumber daya manusianya dalam bidang keagamaan perlu memperhatikan fakta ini. Terkait dengan tidak adanya pemeberian hari cuti resmi dari pemerintah terhadap Hari Raya Umat Islam di Australia justru juga mengakibatkan tidak adanya toleransi dari perusahaan tempat para pekerja bernanung. Ini tentu saja dapat menimbulkan ketidakpuasan kerja kaitannya dengan religiusitas. Dan karena hal ini, dalam mempertimbangkan keagamaan dalam pekerjaan memang penting bagi perusahaan agar toleransi juga dapat dijunjung tinggi sehingga pekerja bias member kekuatan komitmen mereka terhadap tempat mereka bekerja. Sedangkan dalam pendekatan perusahaan meliputi melakukan perbaikan iklim organisasi, melakukan perbaikan terhadap lingkungan fisik, menyediakan sarana olahraga, melakukan analisis kejelasan tugas, meningkatkan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan, melakukan restrukturisasi tugas, serta menerapkan konsep manajemen berdasarkan sasaran. Semua pendekatan ini tentu saja bertujuan untuk menunjang peningkatan dan kenyamanan kerja terhadap para karyawan yang merupakan asset utama bagi perusahaan. Dengan tidak adanya diskriminasi terhadap kaum minoritas, pengaturan waktu kerja yang sesuai, dan adanya penghargaan terhadap kehidupan non kerja keharmonisan perusahaan akan lebih terjamin. Disinilah dibutuhkan kewenangan yang sesuai dari bagian Human Resources Management dalam mendukung karyawannya mencapai kepuasan kerja. Dalam buku tersebut juga menjelaskan bahwa kepuasan kerja adalah bagaimana orang merasakan pekerjaan dan aspek-aspeknya. Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersiat individual. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Ada beberapa alasan mengapa perusahaan harus benar-benar memperhatikan kepuasan kerja yang dapat dikategorikan sesuai dengan fokus karyawan perusahaan. Faktor pertama yaitu bahwa manusia berhak diperlakukan dengan adil dan hormat, pandangan ini menurut perspektif kemanusiaan. Kepuasan kerja merupakan kepuasan refleksi perlakuan yang baik. Penting juga memperhatikan indicator emosional dan kesehatan psikologis. Yang kedua adalah perspektif kemanfaatan, bahwa kepuasan kerja dapat menciptakan perilaku yang mempengaruhi fungsi-fungsi prusahaan. Perbedaan kepuasan kerja antara unit-unit organisasi dapat mendiagnosis potensi persoalan. Sedangkan teori yang berkaitan dengan pembahasan inti jurnal ini adalah Teori Ketidaksesuaian. Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara sesuatu yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan. Sehingga apabila kepuasan diperoleh melebihi sesuatu yang diinginkan,maka orang akan menjadi lebih puas lagi, sehingga terdapat discrepancy, tetapi merupakan discrepancy positif. Kepuasan kerja seseorang tergantung pada selisih antara sesuatu yang dianggap akan didapatkan dengan apa yang dicapai. Dalam hal ini terkait dengan pengalaman pria muslim Australia, dimana mereka mengalami discrepancy positif saat mereka merasakan kepuasan terhadap tempat kerja mereka dan berkomitmen terhadap pekerjaan mereka, ketika mereka percaya bahwa tempat kerja mereka memahami dan memperhatikan komitmen kehidupan mereka khususnya yang berkaitan dengan agama. Namun dalam hal sesuatu yang harusnya didapatkan oleh pekerja muslim Australia yang tidak sesuai kenyataan yaitu tidak adanya pemberian libur hari raya umat Islam dari pemerintah yang tentu saja ini mengakibatkan mereka tetap diforsir untuk bekerja walaupun di hari besar agama mereka itu sendiri.
KESIMPULAN :
Kecenderungan untuk melihat pekerjaan dan keluarga sebagai kedua hal yang terintegrasi mungkin lebih kuat pada pria Muslim Australia karena keyakinan agama mereka. Karena pada ajaran Islam, seorang lelaki yang berperan sebagai kepala keluarga tentu saja berkewajiban memberikan nafkah lahir batin pada keluarganya. Penelitian ini didasarkan pada cross-sectional laporan dari data untuk meneliti pengalaman peserta. Namun, karena kurangnya pengetahuan konseptual fokus studi ini menarik, mengembangkan pemahaman awal adalah lebih tepat dan karenanya, laporan dari data diri digunakan. Selain itu, penelitian ini tidak menggunakan sampel acak. Karena menggambar sampel acak dari Muslim Australia sangat sulit karena tidak ada daftar nama-nama yang dapat diandalkan. Penelitian ini secara signifikan meningkatkan pemahaman kita tentang pengalaman minoritas yang walaupun secara umum gangguan pekerjaan terhadap kehidupan pribadi para pekerjanya bias saja dialami oleh berbagai kalangan pekerja.
Gangguan pekerjaan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi yang berujung pada ketidakbahagiaan. Padahal, ketidakseimbangan ini dapat memicu terganggunya kesehatan fisik dan mental. Bahkan, hal ini dapat mengganggu kemampuan berkreativitas dan berinovatif yang notabene merupakan aspek penting dalam meraih kesuksesan baik itu kesuksesan bagi kehidupan pribadi maupun kontribusinya bagi perusahaan/tempat mereka bekerja. Jadi, Human Resource Management merupakan bagian terpenting yang dituntut dan berwenang mengatasi masalah ini terkait kontribusi para pekerja terhadap perusahaan mereka tersebut. Karena peranan dari manajemen SDM adalah mempertemukan atau memadukan antara perusahaan, karyawan, dan masyarakat luas, menuju tercapainya efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan kinerja perusahaan. Dengan melalui penekanan pada pendekatan individu maupun organisasi, saya rasa perlahan-lahan bisa menciptakan keseimbangan kehidupan dan dunia pekerjaan. Maka dari itu temuan peneliti menggarisbawahi kebutuhan untuk berpikir ulang mengenai efektivitas kebijakan yang dirancang untuk memfasilitasi keseimbangan hidup dan kerja antara pekerja yang memiliki keyakinan budaya dan agama yang berbeda dengan populasi umum.



DAFTAR PUSTAKA :



Rivai Veithzal.2004.Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan dari Teori ke Praktik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada




0 komentar:

Posting Komentar