Jumat, Oktober 24, 2014

Permasalahan Energi di Indonesia, Solusi Alternatif Penggunaan Energi, serta Langkah Efektif Komunikasi Pembangunan Energi

A.    Pendahuluan
            Kelangkaan bahan bakar minyak, yang salah satunya disebabkan oleh kenaikan harga minyak dunia yang signifikan telah mendorong pemerintah untuk mengajak masyarakat mengatasi masalah energi secara bersama-sama. Semakin tinggi harga bahan bakar minyak untuk rumah tangga justru semakin meresahkan masyarakat. Oleh karena hal tersebut, banyak bermunculan pemikiran untuk mencari berbagai bentuk energi alternatif agar berbagai kebutuhan bahan bakar masyrakat tetap dapat dipenuhi tanpa merusak lingkungan.
            Salah satu isu global yang sering diperbincangkan masyarakat Indonesia dan dunia adalah mengenai krisis energi dan pemanasan global. Krisis energi yang dampaknya langsung bisa dirasakan adalah tingginya harga bahan bakar. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa kebutuhan (konsumen) terhadap bahan bakar semakin meningkat dengan pesat, sementara itu    sumbernya makin berkurang. Sebagai konsenkuensi logis, tanpa bahan baku energi kehidupan ini tidak ada.
            Oleh karenanya kita membutuhkan sumber energi alternatif serta ramah lingkungan yang dapat kita manfaatkan guna mencukupi energi yang semakain menipis, misalnya energi fosil yang diperkirakan beberapa puluh tahun kedepan akan habis. Salah satu alternative yang perlu dimanfaatkan adalah biogas, yang pemanfaatannya masih belum maksimal. Padahal biogas memilki potensi energi yang cukup besar untuk kehidupan, jika kita tahu bagaimana mengelolanya.
            Bagaimanapun juga, lingkungan merupakan faktor esensial dalam kehidupan masyarakat. Baik buruknya kondisi lingkungan memang tergantung dari  bagaimana masyarakat terkait mengelola dan menjaga lingkungan tersebut. Lingkungan yang baik dan nyaman tentu akan membuat masyarakatnya juga nyaman dalam menjalani kehidupannya. Dalam perwujudan energi yang potensial untuk menjadi alternative masyarakat, tentu diperlukan adanya pengelolaan dengan kerjasama antar berbagai pihak. Oleh karena itu, faktor komunikasi tentu menjadi sebuah keharusan yang layak dipertimbangkan secara efektif dan efisien dalam kaitannya mewujudkan berbagai tujuan yang diharapkan oleh berbagai pihak. Tak dapat dipungkiri, untuk mewujudkan proses komunikasi dalam sektor lingkungan seperti ini secara efektif dan efisien memang diperlukan kesungguhan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian pembahasan terkait dengan pokok permsalahan yang ada pada masyarakat tersebut.

B.     Ruang Lingkup Komunikasi Lingkungan
            Isu lingkungan masih menjadi perbincangan seksi. Bukan hanya karena berkaitan langsung dengan kehidupan manusia, tapi lebih disebabkan semakin meningkatnya permasalahan lingkungan. Mulai bencana alam yang disebabkan faktor lingkungan akibat ulah manusia, hingga perubahan iklim yang tak terkendali.   
            Komunikasi lingkungan menurut Robert Cox dalam (Herutomo, 2013) merupakan media pragmatis dan konstruktif untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai lingkungan. Menyangkut srategi pengemasan pesan dalam media untuk menumbuhkan kesadarn dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Komunikator utama dalam komunikasi lingkungan adalah pemerintah dan organisasi non pemerintah yang punya komitmen terhadap pengelolaan lingkungan. Pada dasarnya komunikasi lingkungan untuk menumbuhkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mengelola lingkungan termasuk hutan polanya bersifat dialogis yang lebih banyak terjadi pada komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok. Menurut Wiryono dalam (Herutomo, 2013) pola komunikasi dibentuk untuk mengidentikasi dan mengkategorikan unsur-unsur yang relevan dari suatu proses komunikasi khususnya komunikasi interpersonal. 
            Pola komunikasi adalah representasi dari suatu peristiwa komunikasi yang dapat digunakan untuk melihat unsur-unsur yang terlibat dalam komunikasi. Sedangkan sejauh mana efektivitasnya tergantung bagaimana relevansi antara pola komunikasi yang dipakai dengan kondisi sosial, budaya dan psikologis khalayak. Komunikasi yang efektif menurut Susanto dalam (Herutomo, 2013) dapat dilihat dari prosentase antara khalayak yang dapat dipengaruhi dengan khalayak peserta komunikasi disamping itu efektivitas komunikasi juga dapat diukur dari efek pada khalayak yang berupa kognitif, afektif, konatif dan efek sosial meliputi difusi inovasi, opini publik, akulturasi serta perubahan sosial ekonomi. Komunikasi yang efektif jika terjadi dalam suasana yang menguntungkan, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan pesannya menggugah perhatian dan minat komunikan. Severin dan Tankard dalam (Wiryanto, 1998) berpendapat pola komunikasi dapat membantu merumuskan suatu teori dan menyarankan suatu bentuk relasi. Pola komunikasi mempunyai tiga proses (1) menggambarkan proses komunikasi (2) menunjukkan hubungan visual (3) membantu menemukan dan memperbaiki hambatan komunikasi dan fungsinya dalam (Sendjaya , 1999) mempunyai empat fungsi yaitu (1) pengorganisasian (2) penjelasan (3) heuristic, yang memberikan gambaran mengenai unsur- unsur pokok dari suatu proses atau sistem dan (4) prediksi akibat yang terjadi.
            Secara  empiris aspek   komunikasi lingkungan dan kebijakan lingkungan mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi karena komunikasi lingkungan tidak hanya menginformasikan secara linier ataupun    botton  up mengenai masalah lingkungan tetapi lebih pada sharing informasi lingkungan secara dialogis. Disamping itu fungsi komunikasi lingkungan menyampaikan tuntutan (policy demand) masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.
            Dalam lingkup praktis, komunikasi lingkungan ini menyangkut strategi pengemasan pesan dan media untuk mendorong pengetahuan, kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk menjaga lingkungan. Di sini, pemerintah maupun organisasi non pemerintah yang concern terhadap masalah lingkungan merupakan komunikator kunci dalam pembuatan kebijakan/ program yang efektif untuk membangun partisipasi publik dalam implementasinya. Bagi komunikator tersebut, penyampaian pesan yang efektif kepada publik tidak cukup hanya melalui iklan dan kampanye di media massa. Memang komunikasi di media massa diakui memiliki pengaruh besar untuk mentranformasikan pengetahuan kepada masyarakat. Namun untuk mencapai tahapan kesadaran dan implementasi masih perlu komunikasi persuasif melalui pendekatan langsung (interpersonal) kepada masyarakat. Misalnya membentuk kelompok-kelompok peduli lingkungan di masyarakat maupun penanaman nilai-nilai pelestarian lingkungan sejak dini (M Badri, 2011).
            Dalam komunikasi lingkungan yang efektif harus dapat memberi harapan atau keinginan yang berorientasi masa kini maupun masa mendatang. Efektivitas forum komunikasi ini terletak pada sifat komunikasi yang dialogis, umpan balik dan komunikatornya mengetahui komunikasinya berhasil atau tidak yang komunikatornya tokoh masyarakat desa hutan yang berfungsi sebagai change agent. Pengaruh change agent cukup besar dalam mengendalikan perilaku masyarakat desa hutan yang kemudian menjadi perilaku yang ajeg akan pentingnya kelestarian lingkungan yang berpengaruh pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat (Herutomo, 2013).

C.    Energi dan Permasalahannya di Indonesia
            Dalam pembahasan ini, lebih berfokus pada sektor energi. Seperti yang kita ketahui, bahwa segala aktivitas yang dilakukan manusia pada dasarnya membutuhkan energi. Di Indonesia energi memiliki dua fungsi, yaitu sebagai pendorong pembangunan dan sebagai sumber devisa. Pertumbuhan ekonomi jelas membutuhkan ketersediaan berbagai sumber daya alam disamping sumber daya manusia. Segala macam bentuk energi entah itu dari bahan bakar minyak ataupun bioenergy akan selalu dibutuhkan oleh manusia dalam aktivitas sehari-hari di kehidupannya. Karena itu, keterbatasan sumber daya energi menjadi penghambat laju pertumbuhan ekonomi,sementara peningkatan produksi minyak bumi akan dapat menambah devisa negara. Hal senada juga diungkapkan oleh Taufik (2006:36) energi yang dihasilkan dari bahan galian sumber daya alam yang ditambang suatu saat akan habis. Maka diperlukan energy lain sebagai pengganti.
Seperti yang kita ketahui krisis energi tengah melanda negeri kita juga negara-negara lain. Krisis energi ini diperkirakan akan terus berlangsung beberapa tahun ke depan jika tidak segera diatasi. Peningkatan permintaan kebutuhan energi, terutama energi lisrik, yang disebabkan oleh pertumbuhan populasi penduduk dan menipisnya sumber energi serta permasalahan emisi dari bahan bakar fosil memberikan tekanan kepada setiap negara untuk segera memproduksi energi terbarukan. Disamping itu, adanya pemborosan penggunaan energi di berbagai lapisan masyarakat turut menambah beban dalam daftar pemborosan energy yang ada. Bagaimanapun juga, apabila hal ini dibiarkan terus menerus, Indonesia bisa kehabisan pasokan energi, apalagi energy listrik, energy yang paling vital di dunia ini.
            Berdasarkan fakta yang ada, setelah pulih dari krisis moneter pada tahun 1998, Indonesia mengalami lonjakan hebat dalam konsumsi energi. Dari tahun 2000 hingga tahun 2004 konsumsi energi primer Indonesia meningkat sebesar 5.2 % per tahunnya. Peningkatan ini cukup signifikan apabila dibandingkan dengan peningkatan kebutuhan energi pada tahun 1995 hingga tahun 2000, yakni sebesar 2.9 % pertahun. Dengan keadaan yang seperti ini, diperkirakan kebutuhan listrik indonesia akan terus bertambah sebesar 4.6 % setiap tahunnya, hingga diperkirakan mencapai tiga kali lipat pada tahun 2030.
            Kelangkaan sumber daya dan peningkatan permintaan sumber daya energi di masyarakat bisa menjadi hal yang sulit diselesaikan apabila tidak dipahami secara benar yang berujung menjadi permasalahan yang sangat serius. Hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan menggunakan berbagai energy alternative yang sudah banyak dipakai di berbagai negara. Bahkan, negara seperti Norwegia sudah menerapkan diversifikasi energy dengan memanfaatkan air dan gelombang lau. Di Amerika menggunakan biofuel, dan Perancis yang menggunakan energy nuklir. Hal tersebut tentu bisa menginspirasi Indonesia untuk menirunya, sebagai aplikasi nyatanya, beberapa daerah di Indonesia menggunakan energy alternative seperti biogas dan biodiesel, bahkan ada kota yang menjadi pusat pembuatan biogas, yaitu Ciwidey, Jawa Barat.

D.    Jenis Energi Alternatif
            Penggunaan bahan bakar minyak dan batu bara untuk listrik, kendaraan, maupun dalam operasional industri menyebabkan berkurangnya cadangan minyak bumi dan batu bara yang ada di negeri ini. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk berperan serta dalam penggunaan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan serta tidak mengurangi aset kekayaan alam Indonesia. Berikut adalah beberapa pilihan dari Energi Alternatif yang telah digunakan dan dikembangkan oleh berbagai pihak didalam maupun di luar negeri (Tridinews, 2014):

1.          Tenaga Nuklir
            Proses reaksi nuklir terkontrol dapat diterapkan untuk memanfaatkan tenaga nuklir, tenaga nuklir adalah salah satu sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui. Proses yang pengunaan nuklir sebagai energi  dikenal sebagai fisi nuklir. Pembangkit listrik tenaga nuklir yang menggunakan bantuan dari reaktor nuklir, dapat menghasilkan air panas yang akan menghasilkan uap, lalu diubah menjadi kerja mekanik untuk menghasilkan listrik. Survei  pada tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 14% dari pasokan listrik di seluruh dunia berasal dari tenaga nuklir.

2.          Energi Biomassa
            Materi biologis yang hidup dan mati disebut sebagai biomassa. Biomassa dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar untuk produksi industri. Tanaman, kulit pohon, serbuk kayu/gergaji, residu pertanian, serpihan kayu, dan kotoran hewan adalah beberapa contoh dari biomassa yang biasa digunakan. Biomassa berbeda dengan bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil menggunakan deposit fosil seperti batubara yang terkubur di bawah tanah selama berabad-abad lamanya, sumber biomassa relatif murah dan ramah lingkungan.

3.          Gas Alam Terkompresi (Compressed Natural Gas)
            Gas alam terkompresi dibuat dengan melakukan kompresi pada gas alam (metana). Penggunaannya menghasilkan efek gas rumah kaca, tapi meskipun begitu Gas Alam terkompresi tetap merupakan pilihan yang lebih aman dan bersih dibandingkan dengan bahan bakar seperti bensin, solar, atau bahan bakar propana (LPG).

4.          Tenaga Panas Bumi
            Energi panas bumi tergolong murah, dapat diandalkan, dan juga ramah lingkungan. Pembangkit listrik tenaga panas bumi merupakan cara efisien untuk mengekstrak energi yang dapat diperbaharui dan telah disediakan oleh bumi. Penggunaan tenaga panas bumi sudah dilakukan dari zaman Romawi kuno, pada waktu itu energi tersebut telah populer untuk pemanas ruangan serta pemanas air untuk mandi.
Berkat perkembangan ilmu pengetahuan, sekarang tenaga panas bumi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, tanpa merusak lingkungan.

5.          Tenaga Air
            Pembangkit listrik tenaga air adalah salah satu energi alternatif yang paling populer. Gaya gravitasi yang membuat air mengalir/jatuh kebawah, sehingga air yang mengalir/jatuh dari ketinggian tertentu memiliki energi potensial dan bekerja secara kinetik, energi itu diubah menjadi energi mekanik untuk menghasilkan listrik. Tidak hanya ramah lingkungan, tapi pembuatan pembangkit listrik tenaga air juga tidak menghasilkan limbah langsung apapun.

6.          Tenaga Angin
Turbin angin yang dapat mengubah energi angin menjadi listrik, dengan menggunakan rotasi pisau turbin dan generator listrik. Biasanya dibangun banyak kincir angin besar untuk menghasilkan listrik di “peternakan angin”. Selain menghasilkan listrik, kincir angin juga dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan fisik.

7.          Tenaga Surya atau Matahari
Tenaga Surya Matahari adalah salah satu sumber energi alternatif yang sangat populer, teknologi untuk memanfaatkan tenaga surya berkembang dengan sangat pesat. Tidak seperti jaman dulu, sekarang sel surya mudah dipindahkan dan lebih efisien. Tempat dimana terdapat sinar matahari yang terik bisa merubah sinar tersebut menjadi energi matahari dan dapat digunakan sebagai energi secara maksimal.

8.           Tenaga Gelombang Laut
Dengan mengambil energi dari gelombang di permukaan laut, pembangkit listrik tenaga gelombang laut menggunakannya untuk menghasilkan listrik dan melakukan pekerjaan fisik lain. Teknologi ini tidak banyak digunakan meskipun memiliki potensi yang sangat besar.
Hambatan utama penggunaan tenaga gelombang laut adalah dampak negatif yang dapat diterima oleh lingkungan laut. Dibuatnya pembangkit listrik tenaga gelombang laut pada suatu daerah dapat menganggu keseimbangan sosial-ekonomi daerah tersebut.

9.          Energi/Tenaga Pasang Surut Air Laut
Sama dengan tenaga gelombang laut, Energi/Tenaga Pasang Surut Air Laut juga belum banyak digunakan. Namun para ahli melihat potensi yang menjanjikan di masa depan. Salah satu alasannya adalah lebih mudah untuk diprediksi, tidak seperti energi matahari dan angin. Salah satu faktor utama yang menghalangi pemanfaatan teknologi ini adalah biaya yang tinggi.

·         Contoh Realisasi Penggunaan Energi Alternatif di Indonesia (Prasetyo, 2011):
                Kebutuhan energi, terutama listrik      yang    semkin meningkat dan ketersediaann bahan baku yang makin menipis serta permasalahan emisi gas rumah kaca merupakan masalah yang dihadapi oleh masyarakat global. Upaya pencarian akan bahan bakar yang lebih ramah terhadap lingkungan dan dapat diperbaharui merupakan solusi dari permasalahan energi tersebut. Untuk itu indonesia yang memiliki potensi luas wilayah yang begitu besar, diharapkan untuk segera mengaplikasi bahan bakar nabati. Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses anaerobik digestion dan memiliki prosepek sebagai energi         pengganti bahan bakar fosil yang keberadaaanya makin memprihatinkan.
            Biogas adalah gas produk akhir pencernaan atau degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas, termasuk diantaranya: kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Komponen terbesar (penyusun utama) biogas adalah metana (CH4, 54 – 80 %-vol) dan karbon dioksida (CO2, 20 – 45 %-vol). Energi yang terkandung dalam biogas tergantung dari konsentrasi metana (CH4). Semakin tinggi kandungan metana maka semakin besar kandungan energi (nilai kalor) pada biogas, dan sebaliknya semakin kecil kandungan metana semakin kecil nilai kalor. Kualitas biogas dapat ditingkatkan dengan memperlakukan beberapa parameter yaitu : Menghilangkan hidrogen sulphur, kandungan air dan karbon dioksida (CO2). Hidrogen sulphur mengandung racun dan zat yang menyebabkan korosi, bila biogas mengandung senyawa ini maka akan menyebabkan gas yang berbahaya sehingga konsentrasi yang di ijinkan maksimal 5 ppm. Bila gas dibakar maka hidrogen sulphur akan lebih berbahaya karena akan membentuk senyawa baru bersama-sama oksigen, yaitu sulphur dioksida /sulphur trioksida (SO2 / SO3). senyawa ini lebih beracun.
            Pada saat yang sama akan membentuk Sulphur acid (H2SO3) suatu senyawa yang lebih korosif. Parameter yang kedua adalah menghilangkan kandungan karbon dioksida yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas, sehingga gas dapat digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Kandungan air dalam biogas akan menurunkan titik penyalaan biogas serta dapat menimbukan korosif.
            Gas metana diperoleh melalui dekomposisi yang berjalan tanpa kehadiran udara (anaerob). Tingkat keberhasilan pembuatan biogas sangat tergantung pada proses yang terjadi dalam dekomposisi tersebut. Salah satu kunci dalam proses dekomposisi secara anaerob pada pembuatan biogas adalah kehadiran mikroorganisme. Biogas dapat diperoleh dari bahan organik melalui proses “kerja sama” dari tiga kelompok mikroorganisme anaerob. Pertama, kelompok mikroorganisme yang dapat menghidrolisis polimer-polimer organik dan sejumlah lipid menjadi monosakarida, asam-asam lemak, asam-asam amino, dan senyawa kimia sejenisnya. Kedua, kelompok mikroorganisme yang mampu memfermentasi produk yang dihasilkan kelompok mikroorganisme pertama menjadi     asam-asam     organik sederhana       seperti       asam       asetat,       dikenal  sebagai mikroorganisme penghasil asam (acidogen).Ketiga, kelompok mikroorganisme yang mengubah hidrogen dan asam asetat hasil     pembentukan     acidogen     menjadi     gas     metan     dan karbondioksida dikenal dengan nama metanogen.
            Metanogen terdapat dalam kotoran sapi. Lambung (rumen) sapi merupakan tempat yang cocok bagi perkembangan metanogen. Gas metana alami dihasilkan di dalam lambung sapi tersebut. Proses pembuatan biogas tidak jauh berbeda dengan proses pembentukan gas metan dalam lambung sapi. Pada prinsipnya, pembuatan biogas adalah menciptakan gas metan melalui manipulasi lingkungan yang mendukung bagi proses perkembangan metanogen seperti yang terjadi dalam lambung sapi.

·         Perhitungan Peluang Pemanfaatan Biogas dalam Mengatasi Masalah Krisis Energi
            Hal ini bisa dihitung dengan adanya jumlah bahan baku biogas yang melimpah dan rasio antara energi biogas dan energi minyak bumi yang menjanjikan (8900 kkal/m3 gas methan  mmurni). Hal yang pertama harus diperhitungkan dalam menghitung jumlah energi yang dihasilkan adalah berapa banyak jumlah bahan baku yang dihasilkan. Jumlah bahan baku gas ini didapatkan dengan menjumlahkan jumlah feses dan sampah organik yang dihasilkan setiap hari. Jumlah bahan baku ini akan menentukan berapa jumlah energi dan volume alat pembentuk biogas. Sebagai pertimbangan, telah diketahui di China dan India, dalam 1 hari jumlah feses yang dihasilkan 1 ekor sapi adalah 5 kg [7] dan 80 kilogram kotoran sapi yang dicampur 80 liter air dan potongan limbah lainnya dapat menghasilkan 1 meter kubik biogas [1]. Jika diasumsikan bahwa jumlah feses manusia yang dihasilkan sebanyak 0.5 kg/hari/orang, 1 keluarga terdiri dari 5 orang, dan setiap keluarga memelihara 1 ekor sapi, serta 1 desa terdiri dari 40 orang, maka akan didapatkan hasil perhitungan jumlah feses yang dihasilkan sebanyak 140 kg feses/ hari. Dengan jumlah ini, maka biogas yang dihasilkan setiap hari sebanyak 1,75 m3/hari atau sebesar 15.575kkal/hari. Hal  ini akan semakin  mengejutkan dengan  adanya perhitungan bahwa jumlah penduduk indonesia berdasarkan data statistik pada tahun 2000 sebanyak lebih dari 200 juta jiwa [9]. Dengan hanya mengandalkan asumsi perhitungan jumlah kotoran manusia tanpa memperhitungan sampah organik dan feses hewan ternak, akan didapatkan hasil feses sebanyak 100 juta kg feses/hari atau 1,25 juta m3/hari atau 11.125 juta kkal/hari. Apabila dengan asumsi konversi 1 J = 4.2 kal maka akan didapatkan hasil total energi yang dihasilkan hanya dari jumlah penduduk adalah sebesar 30.66 MW.
            Harga bahan bakar minyak yang makin meningkat dan ketersediaannya yang makin menipis serta permasalahan emisi gas rumah kaca merupakan masalah yang dihadapi oleh masyarakat global. Upaya pencarian akan bahan bakar yang lebih ramah terhadap lingkungan dan dapat diperbaharui merupakan solusi dari permasalahan energi tersebut. Untuk itu indonesia yang memiliki potensi luas wilayah yang begitu besar, diharapkan untuk segera mengaplikasi bahan bakar nabati. Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses anaerobik digestion dan memiliki prospek sebagai energi pengganti bahan bakar fosil yang keberadaaanya makin diminati karena:
1.      biogas merupakan energi tanpa menggunakan material yang masih memiliki manfaat termasuk biomassa sehingga biogas tidak merusak keseimbangan karbondioksida yang diakibatkan oleh penggundulan hutan (deforestation) dan perusakan tanah. Energi     biogas     dapat     berfungsi     sebagai     energi pengganti bahan bakar fosil sehingga akan menurunkan gas     rumah     kaca      di     atmosfer dan     emisi     lainnya.
2.      Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang keberadaannya duatmosfer akan meningkatkan temperatur, dengan menggunakan biogas sebagai bahan bakar maka akan mengurangi gas metana di udara.
3.      Limbah berupa sampah kotoran hewan dan manusia merupakan material yang tidak bermanfaaat, bahkan bisa menngakibatkan racun yang sangat berbahaya. Aplikasi anaerobik digestion akan meminimalkan efek tersebut dan meningkatkan nilai manfaat dari limbah.
4.      Selain keuntungan energy yang didapat dari proses anaerobik digestion dengan menghasilkan gas bio, produk samping seperti sludge. Meterial ini diperoleh dari sisa proses anaerobik digestion yang berupa padat dan cair. Masing-masing dapat digunakan sebagai pupuk berupa pupukcair dan pupuk padat.

E.     Strategi Komunikasi Pembangunan Energi
            Untuk mengatasi permasalahan energi di Indonesia memang bukan hal yang mudah, hal ini disebabkan banyak hambatan yang menghadang dalam berbagai upaya perwujudannya, diantaranya adanya ketidakkonsistenan pemerintah pada masalah ini. pembangunan minyak-minyak dalam negeri masih sangat lamban dilakukan oleh pemerintah, sehingga infrastruktur bidang energy yang lemah ini menyebabkan makin meningkatnya impor minyak di Indonesia. infrastruktur penyaluran BBM pun juga masih banyak yang memprihatinkan, sehingga penyaluran BBM menjadi boros. Solusi yang paling tepat memang harus berawal dari pemerintah, dengan lebih serius memperhatikan masalah pembangunan infrastruktur yang mendukung kemandirian energi yang diturunkan dalam RUU APBN. (amindoni@mediaindonesia.com, dalam Nuryanti, 2013). Tidak hanya berbicara soal energy listrik, energy yang tidak dapat diperbarui seperti batu bara dan minyak bumi serta gas alam juga perlu diperhatikan keadaannya karena semua bahan tersebut menjadi bahan yang esensial dalam kehidupan manusia.
            Menyoal tentang kelangkaan energi, upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengajak masyarakat menyadari situasi yang terjadi sebenarnya sudah banyak dilakukan, misalnya dibuatnya kampanye hemat energi yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Dari Dirjen Kementerian ESDM sendiri menyebutkan mereka memiliki enam langkah atau upaya untuk mencapai kemandirian energi. Keenam upaya itu adalah meningkatkan eksplorasi dan produksi migas unconventional, mendorong harga minyak bumi ke arah ekonomian, konservasi dan pengolaha migas berdasarkan prinsip berkelanjutan, dan menginvestasikan wilayah kerja migas baru. Langkah menuju kemandirian ini menjadi tekad kementerian ESDM yang harus dibuktikan kepada masyarakat (Nuryanti, 2013).
            Semua hal tersebut tentu dapat direalisasikan secara menyeluruh yang tentu membutuhkan keterlibatan banyak pihak dengan mengupayakan proses komunikasi secara efektif dan efisien. Lagi-lagi hal ini membuktikan bahwa proses komunikasi sangatlah penting dalam berbagai aspek hubungan pembangunan masyarakat. Dengan begitu, tentu diperlukan adanya suatu strategi komunikasi yang tepat akurat. Dalam hal ini tentu, pemerintah lah faktor yang mampu memegang kendali. Diperlukan pembuktian kredibilitas dalam prosesnya demi menarik kepercayaan masyarakat akan berbagai rencana yang sudah disiapkan oleh pemerintah. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya, hanya saja masih kurang konsisten. Maka dari itu, disinilah pentingnya sebuah komunikasi yang efektif dan efisien dalam proses pelaksanaan strategi komunikasi yang akan diterapkan.
            Dari buku panduan kementerian ekonomi Jerman, Oepen dijelaskan bahwa ada sepuluh langkah strategi komunikasi dalam pembangunan, yang dapat  diuraikan menjadi strategi komunikasi dalam membangun kemandirian energi, diantaranya adalah:

1.      Analisa Program/Masalah
            Media yang dikembangkan seharusnya merupakan bagian terpadu dari suatu program yang lebih besar, karena media adalah alat bantu dalam komunikasi program. Kegiatan awal yang harus dilakukan sebelum sampai kepada pengembangan media adalah menganalisa konteks program. Dalam tahap ini, isu-isu dan masalah-masalah yang ingin dipecahkan oleh program, dipelajari dengan seksama. Media-media yang akan dikembangkan nantinya, seharusnya merupakan alat bantu bagi sebagian dari permasalahan yang akan dipecahkan.

2.      Analisa Situasi
            Media-media yang dikembangkan, tidak dapat berlaku umum untuk semua tempat, semua orang, dan setiap waktu. Program biasanya memiliki wilayah layanan tertentu sebagai fokus utama program, dalam memecahkan permasalahan. Karenanya media-media yang akan dikembangkan, haruslah ditujukan kepada wilayah layanan program ini. Agar media-media ini dapat tepat guna dan diterima oleh kelompok sasaran yang dilayani oleh program, maka media-media haruslah dikembangkan sesuai karakteristik wilayah layanan program. Analisa situasi diperlukan untuk memperoleh data-data mengenai wilayah program, sehubungan dengan kebutuhan kegiatan komunikasi.
3.      Analisa Khalayak
            Tujuan program untuk memecahkan masalah tertentu pada wilayah tertentu, haruslah memperhatikan karakteristik kelompok sasaran. Komunikasi yang dilakukan oleh program bertujuan untuk mempersempit atau bahkan meniadakan kesenjangan-kesenjangan informasi, pengetahuan, sikap atau pun perilaku. Data-data mengenai kondisi awal kelompok sasaran dalam hal kesenjangan informasi, pengetahuan, sikap dan perilaku merupakan modal awal dalam menentukan tujuan komunikasi. Tanpa data-data ini, program tidak pernah tahu seberapa besar perubahan yang terjadi nantinya.

4.      Tujuan Komunikasi
            Permasalahan-permasalahan mendasar yang ada pada kelompok sasaran, biasanya merupakan kepedulian utama dari program. Karenanya kegiatan-kegiatan komunikasi dalam suatu program, diarahkan untuk mencapai suatu perubahan dari kondisi awal. Demi efisiensi dan efektivitas, tujuan komunikasi harus dirumuskan dengan jelas. Program harus memiliki tujuan komunikasi yang dapat dicapai, dimana hasilnya dapat diamati dan diukur. Tujuan komunikasi inilah yang kemudian akan menjadi modal awal dalam kegiatan pengembangan media.

5.      Strategi Komunikasi
            Tujuan komunikasi yang telah ditentukan oleh program, biasanya masih terlalu besar untuk dapat dituangkan ke dalam media. Suatu program dapat memiliki beberapa tujuan komunikasi. Sedangkan suatu tujuan komunikasi belum tentu dapat dituangkan ke dalam satu media saja. Seringkali, untuk mencapai suatu tujuan komunikasi diperlukan beberapa media yang saling melengkapi dan saling menguatkan. Karenanya program harus memikirkan strategi komunikasi yang akan digunakan dalam mencapai tujuan komunikasi.

6.      Perencanaan Kegiatan Pengembangan Media
            Program memiliki kepentingan atas terpenuhinya jadwal penyelesaian pekerjaan, karena tujuan yang ingin dicapai oleh program juga memiliki target waktu. Dengan adanya strategi komunikasi, pelaksana program akan dengan mudah melakukan perencanaan kegiatan pengembangan media. Apabila media-media komunikasi dibutuhkan pada saat yang bersamaan atau pun berdekatan, program harus yakin bahwa kegiatan pengembangan media dapat selesai pada saat yang telah dijadwalkan.

7.      Produksi Dan Ujicoba Media
            Pengembangan Media sebagai kegiatan teknis, harus dilakukan berdasarkan kepada acuan-acuan yang telah dikembangkan sebelumnya. Dalam tahap ini, semua hasil kegiatan pada tahap sebelumnya, dibutuhkan untuk pengembangan media.
Produksi dan Ujicoba Media adalah tahapan dimana suatu media dikembangkan mulai dari pengembangan pesan-pesan utama, pengembangan naskah, pengembangan visualisasi, penataan letak, ujicoba pencetakan dan penggandaan media dilakukan di dalamnya.

8.      Penggunaan Media
            Media yang telah selesai dikembangkan, akan sia-sia jika tidak digunakan sesuai dengan tujuan pengembangannya dan strategi komunikasi yang telah dikembangkan. Program harus dapat menjamin bahwa media yang telah dikembangkan digunakan sebagai peruntukannya, apabila menginginkan tercapainya tujuan komunikasi. Pengguna media biasanya bukanlah orang-orang yang mengembangkan media. Karenanya, program perlu mengembangkan suatu panduan penggunaan media untuk menjamin berjalannya strategi komunikasi dan terjadinya komunikasi dengan menggunakan media itu sendiri.

9.      Monitoring Dan Sistem Pengelolaan Informasi
            Kegiatan-kegiatan komunikasi yang dilakukan sesuai strategi komunikasi yang dikembangkan, belum tentu dapat mencapai tujuan komunikasi yang telah ditetapkan. Sedetil apapun dan secermat apapun perencanaan yang dikembangkan, selalu saja diperlukan adanya penyesuaian-penyesuaian. Untuk dapat menjamin tercapainya tujuan komunikasi, Program harus melakukan pemantauan atas kegiatan-kegiatan komunikasi yang dilakukan sambil terus mengamati perubahan-perubahan yang terjadi. Adanya perubahan situasi, dapat saja mempengaruhi efektivitas dan efisiensi kegiatan komunikasi. Tanpa adanya mekanisme pemantauan dan pengelolaan informasi, Program akan mengalami kesulitan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam waktu singkat. Program dituntut untuk dapat mengembangkan mekanisme pengelolaan informasi dan mekanisme pemantauan, agar penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan dapat diketahui sesegera mungkin untuk dapat dilakukan pengambilan keputusan penyesuaian.

10.  Evaluasi Dan Analisa Masalah
            Evaluasi merupakan kegiatan pengukuran secara sistematis yang dilakukan oleh Program, untuk menilai sejauhmana keberhasilan program dalam mencapai tujuannya. Evaluasi secara keseluruhan juga akan mencakup evaluasi terhadap kajian di bidang kegiatan komunikasi. Dalam hal ini, biasanya pertanyaan-pertanyaan evaluasi diarahkan untuk mengetahui apakah kelompok sasaran/khalayak telah terjangkau oleh program; apakah terdapat perubahan pada kelompok sasaran/khalayak (pengetahuan, sikap atau pun perilaku); sejauhmana perubahan terjadi; mengapa terjadi atau tidak terjadi perubahan dan sebagainya.
            Secara alami, program tidak akan mungkin memecahkan semua masalah yang ada pada suatu kelompok sasaran di suatu wilayah dalam satu waktu. Permasalahan yang belum terpecahkan akan dikaji ulang dan dicoba dicarikan jalan keluarnya. Jika permasalahan berhasil dipecahkan, akan muncul permasalahan lainnya yang menjadi penting untuk dipecahkan. Program akan bergerak maju, untuk memecahkan masalah-masalah berikutnya. Pada tahap ini, kegiatan evaluasi sebenarnya merupakan bagian dari kegiatan Analisa Program / Masalah (tahap pertama) untuk program berikutnya.
            Strategi komunikasi diatas secara umum dapat disepakati menjadi strategi yang komprehensif. Jika pemerintah Indonesia selaku pemangku kebijakan mampu dan mau menerapkan langkah-langkah tersebut maka kemandirian energi bukan hanya wacana, tetapi juga menjadi proyek besar bangsa ini yang mampu melibatkan banyak pihak terkait dan dengan adanya penggunaan strategi tersebut secara tepat, hasil terbaik bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia akan permasalahan energi dapat diselesaikan secara optimal (Nuryanti, 2013).

F.     Kesimpulan

            Dapat disimpulkan bahwa penggunaan energi di dunia ini akan semakin tidak terkendali apabila masyarakatnya juga tidak mampu mengendalikan dengan tepat. Akibatnya bisa menjadikan persediaan bahan bakar yang ada semakin menipis dan tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara keselutuhan. Oleh karena hal tersebut, diperlukan adanya upaya bersama dari berbagai pihak untuk menanggulanginya. Dan dalam proses pembentukan upaya tersebut jelas dibutuhkan suatu proses komunikasi yang efektif dan efisien agar tercipta keseragaman makna.                      
            Proses komunikasi untuk membangun kemandirian energi dapat dilakukan dengan 10 langkah yang sudah dijabarkan sebelumnya. Apabila hal tersebut diterapkan dengan benar maka tidak akan terjadi kesalahpahaman diantara masyarakat dan mampu mewujudkah kehidupan yang lebih baik. Berbagai cara untuk menciptakan energi alternative juga sudah banyak diterapkan, tinggal bagaimana masyarakatnya mempergunakannya. Jadi pada dasarnya komunikasi lingkungan memanglah penting, dan kualitas lingkungan ditentukan langsung dari masyarakatnya itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA:

Badri, Muhammad. 2011. Urgensi Komunikasi Lingkungan. Tersedia dalam:             http://ruangdosen.wordpress.com/2011/06/15/urgensi-komunikasi-lingkungan/ diakses       pada 15 Oktober 2014

Citra, Ade Novanda. 2013. 10 Langkah Strategi Komunikasi. Tersedia dalam:             http://queenovanda.wordpress.com/category/mata-kuliah-komunikasi/ diakses pada 19       Oktober 2014.

Herutomo, Christoporus. 2013. Komunikasi Lingkungan dalam Mengembangkan Hutan    Berkelanjutan. Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman. Acta       Diurna Volume 9, No. 2.

Nuryanti. 2013. Strategi Komunikasi Membangun Kemandirian Energi. Jurusan Ilmu        Komunikasi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman. Acta            Diurna Volume 9, No. 2.

Prasetyo, Septian Dhani. 2011. Biogas Sebagai Energi Alternatif Terbarukan. Jurusan Teknik        Elektro Polines

Rahayu, Sugi dkk. 2009. Pemanfaatan Kotoran Ternak Sapi Sebagai Sumber Energi Alternatif     Ramah Lingkungan Beserta Aspek Sosiokulturalnya. FISE Universitas Negeri         Yogyakarta

Sarjana, Jendela. 2013. 9 Contoh Sumber Energi Alternatif. Tersedia dalam:             http://www.jendelasarjana.com/2013/09/9-contoh-sumber-energi-alternatif.html diakses     pada 20 Oktober 2014





Read More

Jumat, September 12, 2014

Pengertian Serta Ruang Lingkup Komunikasi Massa dan Sosiologi Komunikasi Massa


  1. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP KOMUNIKASI MASSA
A.    PENGERTIAN KOMUNIKASI
            Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa Inggris communication, dan kata communication berasal dari kata dalam bahasa Latin communication yang artinya sama. Sama di sini maksudnya sama makna. Kesamaan bahasa yang digunakan dalam percakapan belum tentu memberikan kesamaan makna. Dengan kata lain, mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa itu sendiri (Effendy, 1984:1).
Read More

Perbedaan Sex dan Gender



Pada dasarnya perbedaan antara laki-laki dan perempuan dapat diwakili oleh dua konsep, yaitu jenis kelamin (sex) dan gender. Perbedaan jenis kelamin mengacu pada perbedaan fisik (perbedaan fungsi reproduksi) sedangkan gender merupakan konstruksi sosio-kultural. Pada prinsipnya, gender merupakan interpretasi kultural atas perbedaan jenis kelamin. Bagaimanapun, gender memang berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin namun tidak identik, dan juga tidak selalu berhubungan dengan perbedaan fisiologis seperti yang selama ini banyak dijumpai dalam masyarakat.
Read More

Senin, Juni 23, 2014

Kaum Muda dan Kesadaran Politik

Huru-hara pemilu semakin terasa kental dari hari ke hari. Persiapan menuju tanggal 9 Juli mendatang juga merupakan aspek penting bagi berbagai pihak perpolitikan demi menentukan kehidupan Indonesia lima tahun yang akan datang. Di Indonesia, persiapan pemilihan umum ini memang menjadi hot topic yang akan selalu dibahas di manapun, terutama di media, baik itu dalam jenis media tradisional, elektronik, maupun online.

Menyoal media online, biasanya merupakan media yang paling efektif bagi peredaran berbagai informasi, karena tempo penyebarannya yang tegolong cepat. Faktanya media online justru lebih banyak digunakan oleh kaum muda atau remaja Indonesia dalam aktivitas penyebaran dan penyerapan informasi dalam berbagai aspek bahasan, termasuk berita dan isu mengenai perpolitikan Indonesia saat ini.
             
Media online memang lebih banyak digunakan oleh kaum muda sebagai hiburan dan pemenuhan kebutuhan untuk diakui dan dilihat oleh orang lain. Remaja juga memang merupakan active internet user dengan presentase terbesar pengguna media online. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, media online juga merupakan media yang efektif untuk menyebarkan berbagai berita mengenai pemilu ini. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimanakah seharusnya sikap remaja yang notabene sebagai generasi muda bangsa dalam memahami paparan media akan berita seputar pemilu dan berbagai situasi yang bergolak di tubuh negara ini?
            
 Remaja memang dianggap sebagai pihak yang aktif dan akan selalu up to date  dalam berbagai aspek yang menyangkut kehidupannya. Dengan adanya situasi dan pergolakan mengenai pemilihan umum calon presiden dan wakil presiden kelak, sebagai generasi yang fresh dan muda, kaum remaja haruslah memiliki kepedulian dan pengetahuan yang tinggi serta luas akan berbagai aspek yang dibahas. Hal ini bukanlah tanpa manfaat, apabila kaum remaja mampu memahami aspek ini, justru akan mendatangkan keuntungan bagi mereka sendiri pada perkembangan pemikiran dan kemampuan menganalisa suatu fenomena yang akhirnya dapat menumbuhkan suatu idealisme tersendiri bagi mereka. Hal inilah yang disebut sebagai kesadaran politik.
            
 Kesadaran politik semacam ini lah yang berguna membentuk karakter dan pemikiran mereka sebagai generasi muda atas persiapan dan ancang-ancang bagi Indonesia beberapa tahun yang akan datang, karena bagaimanapun juga kaum remaja yang sekarang adalah calon-calon penerus bangsa untuk beberapa tahun yang akan datang.
             
Sesungguhnya kaum muda bangsa ini bukanlah hanya berperan sebagai generasi penerus bangsa. Dalam tubuh bangsa ini masih sering terjadi pergolakan dalam berbagai aspek kehidupannya. Yang perlu disadari, bila bila kaum muda/remaja hanya berperan sebagai generasi penerus bangsa, yang ada segala pergolakan dan ketimpangan yang terjadi sekarang akan selalu terulang di masa yang akan datang. Oleh karena itu, sadarilah bahwa sesungguhnya kaum muda bangsa ini juga harus berperan sebagai generasi pelurus bangsa. Mereka harus mampu meluruskan hal-hal apa saja yang selama ini salah pada tubuh bangsa Indonesia ini demi menciptakan perubahan yang lebih baik di masa yang akan datang.
             
Lalu bagaimakah caranya agar kaum muda sekarang mampu berperan sebagai generasi pelurus bangsa secara maksimal? Sesungguhnya semua itu bisa dimulai dari adanya kesadaran politik pada masing-masing individu. Dengan memiliki kesadaran politik, kaum muda akan lebih mengerti dan memahami kondisi dan situasi yang ada sehingga mereka mampu memahami bagaimanakah sikap yang tepat untuk mampu menyumbangkan perubahan-perubahan pada tubuh bangsa Indonesia.
             
Memang terdengar sederhana, namun mampu berpengaruh besar apabila mereka mampu mengimplementasikannya secara tepat. Jadi, untuk para kaum muda, sangatlah penting untuk turut berpartisipasi dalam pemilihan presiden tahun ini. Karena dengan begitu, kaum muda sudah terbilang berproses untuk menjadi suatu generasi pelurus bangsa demi menciptakan Indonesia yang semakin baik di tahun-tahun yang akan datang.
Read More

Rabu, Juni 04, 2014

Oh Ternyata Begini Ilmu Komunikasi itu -Chapter 4, End-

Kembali lagi ke topik ini, topik yang mana penulis akan mengungkapkan mengenai hal-hal apa saja yang udah penulis dapat saat belajar di ilmu komunikasi ini. Ya meskipun penulis ga pinter-pinter banget ngungkapinnya di blog ini, tapi setidaknya penulis cuma pengen berbagi aja dan semoga bermanfaat bagi semua yang membacanya.

Setelah kita udah ngebahas sikap dan toleransi kemarin, sekarang aku mau masuk ke pembahasan mengenai kenapa sih manusia itu butuh dimengerti dan gimana aja caranya merelakan sesuatu yang mungkin tidak akan menjadi milik kita selamanya, serta bagaimana seharusnya kita mampu menjadi komunikator yang baik. Nah, untuk yang pertama yaitu mengenai kenapa sih manusia itu butuh dimengerti? Manusia tentu akan berasal dari keluarga dan latar belakang yang berbeda-beda. Perbedaan itulah yang kadang bisa berpotensi menimbulkan konflik dalam hubungan. Dengan adanya pengertian kita bisa mencoba untuk memahami sesuatu yang ada di orang lain tersebut dalam berbagai sisi. Jadi, memang seharusnya dalam hidup ini manusia janganlah hanya memandang dari satu perspektif/sisi aja. Jika manusia hanya melakukan hal tersebut, yang ada justru mereka tidak akan pernah bisa mencoba buat mengerti orang lain yang pada akhirnya malah memberi kesempatan orang lain untuk tidak menghargai kita. Terlalu "saklek" dalam suatu hal sebenarnya tidak selalu memberikan keuntungan, namun kalau sudah mencakup masalah prinsip semua itu tergantung dan balik pada masing-masing individunya. Dengan kita mengerti orang lain, tentu orang lain juga akan mengerti kita. Sadarilah sesungguhnya apapun yang ada di dunia ini akan selalu ada "feedback" nya, kalau memang kita ingin dimengerti ya kita juga harus mengerti orang lain. Dengan begitu kita akan merasakan bagaimana rasanya menjalani hidup dengan berpegang teguh pada prinsip kita namun tetap ada orang lain yang mengahargai prinsip kita tersebut.

Yang kedua adalah mengenai bagaimanakah caranya merelakan sesuatu yang mungkin tidak akan menjadi milik kita selamanya. Contoh simple aja mungkin kadang kita merasakan kesusahan, namun tidak selamanya kesusahan itu milik kita. Kadang kita juga merasakan kesenangan, namun juga suatu saat kita harus merelakan kesenangan itu pergi untuk sementara. Dalam konteks hubungan antarmanusia, terkadang Tuhan menciptakan manusia untuk hadir di hidup kita, ada yang memberi kebahagiaan ada juga yang melukis "warna gelap". Namun semua itu tidak akan terpisah dari konflik yang akan menentukan bagaimanakah kelanjutan hubungan kita. Terkadang kita sulit merelakan orang-orang yang harus pergi dari kehidupan kita yang dulunya telah banyak melukiskan kisah indah. Apalagi kalau perginya itu karena sebelumnya ada konflik yang terjadi. Namun sesungguhnya kita harus menerapkan prinsip bahwa memang perpisahan itu hal yang paling buruk dan menyakitkan, namun percayalah mungkin kita perlu bahagia dengan cara kita masing-masing.

Ingat, tidak selamanya ko kesusahan itu akan selalu bersama kita. Kalaupun kita menemui orang-orang yang ternyata tidak mau lagi berlama-lama dalam kehupan kita, atau dengan kata lain mereka memilih untuk pergi, ya relakanlah. Kenangan yang sudah terbentuk biarlah menjadi memori yang tidak akan pernah dilupakan, namun jangan sampai menimbulkan suatu keterpurukan bagi diri kita sendiri. Sesungguhnya kita di dunia ini tidaklah sendiri, saat ada orang yang lebih memilih pergi dair kehidupan kita, biarlah dia pergi. Mungkin dengan seperti ini lah cara Tuhan membahagiakan masing-masing dari kita. Meskipun kerusakan hubungan yang ada akan selalu ada presentase yang disumbangkan karena kelakuan kita sendiri, namun sesungguhnya memang tidak ada manusia yang sempurna.

Selanjutnya, unutk menjadi komunikator yang baik sebenarnya tidaklah susah. Untuk menjadi komunikator yang baik jadilah pendengar yang baik terlebih dahulu. Secara sederhana, bila kita dihadapkan pada situasi ada teman kita yang berniat curhat kepada kita secara langsung, ada baiknya kita dengarkan dahulu dengan seksama. Letakkan ponsel kita terlebih dahulu saat ada orang lain yang lebih membutuhkan kita. Kadang orang yang percaya kepada kita untuk menceritakan masalahnya, hanya butuh didengarkan walaupun mungkin kadang kita tidak selalu bisa memberikan solusi. Setelah menjadi pendengar yang baik, selanjutnya kita usahakan untuk memahami akar masalahnya dan kalau memang mau menanggapi, berikan tanggapan yang positif dan hati-hati. Jangan terlalu memandang sebelah mata kalau memang hal yang mereka ceritakan bertentangan dengan prinsip kita, namun cobalah untuk melihat lebih dekat dan kita akan bisa menilai dengan lebih bijaksana. Untuk tahap selanjutnya, hal-hal yang sudah kita dnegarkan itu dapat kita analisis secara pribadi, renungkan, dan jadikan bahan belajar bagi diri kita sendiri. Kan kita belajar juga bisa dari pengalaman orang lain bukan?

Ilmu komunikasi mengajarkan bagaimana kita memahami orang lain, memahami cara bersikap, dan memahami bahwa manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Berhentilah menuntut kesempurnaan dan buat kesempurnaanmu dengan orang-orang yang kau sayangi sendiri. Janganlah terlalu memaksakan kehendak dan menjunjung tinggi keegoisan. Semua itu hanya akan mendatangkan malapetaka bagi diri kita sendiri.

Mungkin semua yang sudah saya tulis terdengar sepele, dan merasa bahwa tanpa mempelajari ilmu komunikasi pun smeua manusia mampu melakukannya. Ya memang hal tersebut bisa saja terjadi, namun saya merasa lebih kuat memahami semua itu apabila memang ada ilmunya dan berdasarkan  realitas dan pengalaman yang tercipta. Masih banyak aspek di ilmu komunikasi yang bisa dipelajari, namun saya lebih mengangakt hal ini karena memang saya kini  benar-benar menyadari bahwa komunikasi memang merupakan hal yang terdengar sepele namun sesuatu yang esensial bagi manusia. Semua manusia memang bisa melakukan komunikasi, namun tidak semuanya bisa berkomunikasi secara efektif dan efisien.

Mungkin itu sedikit catatan saya yang ingin saya bagi mengenai hal-hal apa saja yang sudah saya dapatkan selama belajar di jurusan ini. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa saya ungkapkan, namun saya masih harus banyak merenungkan semuanya dulu. Saya tidak ada maksud untuk menggurui, hanya sekedar berbagi saja apa yang saya rasakan dan alami selama ini. Semoga kita semua bisa menjadi manusia yang lebih berkualitas :)
Read More

Selasa, Juni 03, 2014

Oh Ternyata Begini Ilmu Komunikasi itu -Chapter 3-

Kembali lagi ke pembahasan sebelumnya ya.. Jadi pokoknya yang penulis tulis disini masih seputar konteks hubungan antar manusia aja ya, belum mengarah ke konteks yang lebih spesifik dalam mata kuliah ilmu komunikasi ini. Dan kemarin penulis udah mbahas tentang sikap, yang ternyata akan selalu menjadi aspek yang penting dalam kaitannya dengan kualitas diri kita dan kualitas hubungan kita dengan orang lain.

Selanjutnya aku pengen bahas tentang gimana sih sebenarnya kita memahami orang lain itu? Jadi, berdasar ilmu yang aku usaha serap dalam proses perkuliahan kali ini manusia kan emang akan selalu mempunyai empat kategori hubungan antarpersona. Keluarga, Sahabat, Hubungan Romantis, dan Rekan kerja. Nah, dari yang mulai konteks keluarga dulu deh, orang-orang yang ketemu sama kita setiap hari, dari kita kecil sampai sekarang. Sama keluarga sendiri aja, kadang kita juga punya masalah kan? Entah itu hanya seputar bete-betean, tapi ya tetep aja pernah punya perasaan ga enak sama mereka. Itu sama mereka yang notabene sedarah sama kita loh, aja bisa bete-betean, apalagi sama orang lain yang ga punya hubungan darah dan mungkin berasal dari latar belakang yang berbeda. Nah disinilah masuk kedalam kategori Sahabat dan Hubungan Romantis.

Gak ada kan manusia yang mau hidup sendiri, dan ga mungkin ada manusia yang ga punya sahabat dan tidak pernah menjalin hubungan romantis sekalipun. Hal ini lah yang membuat manusia akan melewati suatu proses pendewasaan diri dalam hidupnya. Dalam konteks persahabatan dan hubungan romantis ini memang berbeda dengan konteks keluarga. Mereka adalah orang-orang yang pasti memiliki latar belakang kebudayaan dan pemikiran dari kita. Nah, justru hal inilah yang berpotensi menyebabkan konflik paling besar. Sebenarnya kategori Rekan Kerja juga masuk kedalam lingkup ini, karena mereka sama-sama orang yang berasal dari darah yang berbeda dari kita.

Dalam kategori ini lah yang kadang kita memiliki beberapa konflik yang justru kadang ada yang tidak bisa diselesaikan. Bagaimanapun juga, dengan adanya perbedaan pikiran dan latar belakang membuat kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada mereka. Sebagai anak komunikasi, harusnya kita mulai memahami bahwa segala sesuatunya tidak akan pernah dikomunikasikan secara efektif apabila kita tidak memiliki perasaan empati kepada orang lain. Kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk memakai "baju kita". Kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk mengerti kita secara keseluruhan dan kita tidak bisa membiarkan orang lain merubah diri kita juga. Disinilah letak toleransi dan pengertian menempati urutan pertama dalam konteks hubugan antarmanusia.

Jangan sampai kita mengalami kesalahpahaman dalam berkomunikasi, namun akhirnya justru menimbulkan konflik yang membuat hubungan kita dengan orang lain tersebut menjadi berantakan.
Memang terkadang susah menjaga dan mempertahankan suatu hubungan yang sudah terbina dengan baik, namun bagaimanapun hal ini adalah aspek penting bagi kehidupan kita. Dalam mengaplikasikannya setidaknya kita harus memiliki keyakinan bahwa sesungguhnya dalam memandang suatu hal janganlah hanya dari satu sisi saja, namun cobalah tengok dari sisi lain. Dengan begitu kita akan mencoba belajar untuk memahami hal dari berbagai sisi yang akhirnya dapat membentuk kecenderungan kita untuk memahami situasi dan orang lain.

Mungkin terdengar sepele, namun jujur saja saya sudah sering mendengar hal-hal semcam itu dikatakan oleh motivator atau dari buku-buku, namun ternyata saat saya sudah mempelajari sendiri dan mengerti ilmunya, saya lebih percaya, bahwa hal-hal sepele tersebut seharusnya juga tidak boleh disepelekan oleh anak komunikasi.

To be Continue.
Read More

Senin, Juni 02, 2014

Oh Ternyata Begini Ilmu Komunikasi itu -Chapter 2-

Hallo penulis balik lagi, mau bahas tentang lanjutan chapter kemarin, tentang apa aja sih yang udah penulis rasain selama kuliah di jurusan ilmu komunkasi ini. Nah, kemarin kan aku bilang kalo di jurusan komunikasi ini aku dapet banyak ilmu tentang kehidupan dan hubungan antar manusia. Jadi, di dalam jurusan ilmu komunikasi itu sejauh yang aku pelajari ini ada mata kuliah Komunikasi Keluarga, Komunikasi Antarpersona, dan Psikologi Komunikasi. Mata kuliah itulah yang didalamnya berkaitan dengan ilmu-ilmu dalam menyikapi hubungan antar manusia.

Pada dasarnya manusia itu akan selalu memiliki 4 relasi antarpersona, yaitu Keluarga, Sahabat, Hubungan Romantis, dan Relasi Rekan Kerja. Jadi, dalam kehidupan manusia, mereka akan selalu menemui orang-orang yang tergolong di dalam masing-masing kategori tersebut. Nah, tinggal bagaimana caranya agar individu tersebut mampu melaksanakan dan menjaga kualitas hubungan dan proses komunikasi dengan mereka. Setelah mempelajari itu semua aku jadi tau kalau ternyata kita hidup juga ga melulu sama orang-orang yang itu-itu aja. Suatu hari nanti pasti bakal ada orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Namun, kapanpun itu waktunya, tugas kita sebenarnya adalah menjaga bagaimana agar hubungan yang telah kita jalin sebelumnya dapat tetap memiliki cerita indah bukanlah menjadi cerita kelam yang tak ingin diingat.

Namun, aku menyadari bahwa sesungguhnya manusia juga merupakan makhluk yang tidak pernah luput dari kesalahan. Pasti akan selalu ada hal-hal seseorang yang dirasa tidak cocok oleh orang lain. Namun kita sesungguhnya harus mampu menyikapinya dengan bijaksana. Manusia tidak akan pernah lepas dari persepsi. Nah, persepsi ini sebenarnya udah dipelajari dari semester satu di jurusan ilmu komunikasi ini, namun dengan mempelajari persepsi ini aku jadi ngerti bahwa ternyata memang persepsi merupakan inti dari komunikasi. Implikasinya adalah bahwa persepsi kita terhadap orang lain itu akan mempengaruhi cara kita berkomunikasi dengan orang tersebut. Nah, dari poin ini aku belajar bahwa sesungguhnya sikap kita sangatlah penting saat kita melakukan interaksi antar manusia. Akhirnya aku menyadari bahwa sesungguhnya sikap kita itu akan selalu dilihat oleh orang lain, dan akan selalu dinilai oleh mereka, yang akhirnya membentuk persepsi kita terhadap diri kita meskipun tidak mereka ungkapkan secara langsung. Jadi, memang pada dasarnya sikap merupakan aspek yang penting dalam kehidupan kita. Bahkan, meskipun kita anak komunikasi, kadang sikap kita lebih penting dan mampu memberikan kontribusi yang besar daripada apa yang kita bicarakan. Atau dengan kata lain cara kita menyampaikan sesuatu kadang lebih penting daripada pesan yang kita bawakan.

To Be Continue :D
Read More

Minggu, Juni 01, 2014

Oh Ternyata Begini Ilmu Komunikasi itu -Chapter 1-

Di awal bulan Juni ini, aku pengen nulis tentang renungan dan pengamatan yang aku lakukan selama dua tahun ini setelah saya resmi menjadi mahasiswi komunikasi. Hehehehehe.. Jujur aja, aku seneng banget jadi anak komunikasi, maksudnya ini jurusan  emang karena aku punya minat yang besar disini. Awalnya dengar jurusan komunikasi ini memang aku langsung tertarik dengan jenis-jenis mata kuliah yang akan dipelajari. Dan yaahh..saat aku bener-bener resmi masuk jurusan ini jelas aku sangat senang, dan berusaha menekuni ilmu yang aku pelajari ini.

Sebelumnya, pengen cerita dulu tentang kehidupanku di SMA dengan kehidupanku di bangku kuliahan. Ternyata sangat berbeda. Ibaratnya kita kaya melewati sebuah sungai yang lebar sekali, tapi ga ada jembatannya. Nah, disinilah kita harus mikir gimana caranya agar kita bisa menyebrangi dengan lancar dan selamat di seberang sungai. Yah begitulah,  saat aku masih SMA semuanya terasa begitu indah, begitu heboh, rame, seru, dan lain-lain. Namun saat masuk bangku kuliah, semuanya seolah berubah. Aku mulai merasakan perbedaan yang signifikan dalam hal tugas dan kehidupan sehari-harinya. Dan yang lebih terasa berbeda lagi, sejak aku memasuki bangku kuliah masalah dalam hidupku menjadi lebih kompleks. Maksudnya apapun yang aku hadapi menjadi lebih rumit yang kadang tidak bisa langsung diselesaikan. Banyak masalah yang menghadang entah itu dalam berbagai aspek. Sungguh ini fakta!

Nah dari situlah aku mulai berpikir, merenung, dan mencoba memahami bahwa ternyata kehidupan ini memang berputar. Tidak selamanya kita akan bersenang-senang terus dan tidak selamanya kita akan bersakit-sakit terus. Apalagi akhir-akhir ini aku mendapatkan suatu "hantaman" yang sempat membuat hari-haiku tidak nyaman. Namun, entah mengapa aku merasa mendapatkan semua penyelesaian masalah yang ada dari ilmu-ilmu yang aku dapat, yaitu ilmu komunikasi.

Dalam jurusan ini, aku sudah banyak belajar berbagai hal yang ternyata jurusan ini  kita mempelajari tidak hanya seputar teori-teori dalam aspek akademis saja, namun juga terdapat teori-teori dalam aspek kehidupan. Nah inilah spesialnya ilmu komunikasi! Dalam jurusan ini ternyata aku belajar mengenai aspek kehidupan, hubungan antar manusia, pengendalian diri, psikologi dll. Pokoknya segala hal yang harus dilakukan dalam kehidupan kita untuk bisa menjalani hidup.

Nah, sejak aku belajar semua itu, akhirnya aku mulai menyadari hal-hal yang mungkin terdengar sepele, namun ternyata sangat penting bagi seluruh manusia, termasuk orang-orang yang sebenarnya bukan mahasiswa komunikasi. Hal-hal penting apa aja sih itu? Oke aku bakal menguraikan namun pada chapter sleanjutnya ya.. heheheheh ;)
Read More